Sedih atau Bahagia?

Antara Sedih dan Bahagia

Sedih, ya saya memang sedang bersedih, bersedih karena saya gugur dalam kompetisi itu, gugur masih pada tahap awal, padahal saya begitu optimis di awal-awalnya, semua sudah saya rencanakan dalam hati, sudah saya susun juga tempat mana yang akan saya kunjungi, apa yang akan saya pelajari, siapa yang akan saya temui, akhirnya pupus juga. janji untuk bertemu lagi dengan teman-teman di Sorong akhirnya gagal, sudah saya kabarkan ke mereka tentang kegagalan ini, dan kesabaranlah inti dari jawaban mereka, masih ada yang lebih baik dari itu nanti, ah itu kan cuma kata-kata mereka yang sudah biasa di sampaikan ketika seseorang terjatuh saat kompetisi, apakah itu benar? yah relatif juga, bisa benar, bisa juga tidak, tergantung kitanya saja yang mengartikan itu dengan tolak ukur yangb berbeda. bisa jadi akan ada kompetesi yang lebih baik dari itu kemudian hari kelak, atau bisa jadi tidak akan membuat saya menjadi lebih baik jika saya lulus dalam kompetisi itu, dan bisa jadi juga memang saya sedang memasuki proses menurun.  Atau memang niat saya yang kurang waktu itu, kurang niat untuk lebih baik karena Tuhan. tapi sudahlah, sumua sudah terjadi, kenyataan adalah kenyataan, waktu terus berjalan, jangan terlalu lama bersedih.

Terus kenapa harus bahagia? menurut saya sih, bahagia atau sedihnya suatu kejadian, bisa di atur dengan dalam diri sendiri, jadi dengan tidak berhasilnya saya, ternyata ada sisi baiknya juga, ya saya tetap bahagia dengan itu, walau memang saya sudah tidak kerasan lagi harus berlama-lama disini. bahagia karena ayam ternak saya sudah sehat-sehat, sedih juga rasanya kalau harus ditinggal, bahagia karena saya masih dapat tingal di rumah Milik Perusahaan, walaupun tidak memiliki fasilitas lengkap namun tetap harus bersukur dari orang yang harus sewa tempat lagi untuk tingal,  bahagia karena masih menghirup udara segar, masih dapat menyaksikan Senja nan  indah itu, masih sehat. ya,,,, masih banyak lagi yang membuat saya harus mensyukuri apa yang ada, walaupun itu semua juga merupakan cobaan dari yang maha kuasa, cobaan bagaimana saya harus menyikapi kesehatan itu sebelum datangnya masa sakit.

Menyesal tiada Guna,
Melihat ke belakang juga kadang tidak baik
menghitung-hitung seberapa besar apa yang kita lakukan
untuk memperjuagkan kompetisi itu
ada rasa kesal, kenapa harus saya yang gugur
tapi kalau kalau di lihat lebih luas lagi
ternyata saya tidak sendiri,
masih banyak lagi yang tidak lulus,
lulus-tidak lulus bukankah itu suatu harga
yang memang sudah disediakan, entah harus memilih
atau tetap tegar walaupun nanti ada gilirannya
Previous
Next Post »
0 Komentar