Mengapa Sahabat?

Menanti datangnya senja di Ujung Bandara Kaimana,02 Februari 2013

Wisata Pemandian KM 14 Kaimana, 24 Januari 2013
Jiwa ini sepertinya mau merontak, ingin menemukan sesuatu, ingin ke suatu tempat dimana hanya kedamaian yang ditemukan, namun jiwa ini seperti masih buta, tidak tau apa yang hendak dicari, dimana tempat yang ingin dikunjngi.

Setiap hari diri ini selalu merasa sunyi, sunyi karena tidak memiliki teman, sunyi karena tidak ada tempat berbagi, ingin bergerak lebih, keadaan tidak mendukung, keuangan tidak pas.hanya dengan menulis kisah begini tempat saya bisa sedikit berbagi, merasa labih lega. menyesali dihidupkan dengan keadaan seperti ini, itu sudah dosa, ku akui saya memang seperti ini adanya, sulit punya banyak teman,sulit memulai suatu komunikasi yang berkesinambunagn dengah tetangga, dengan orang-orang sekitar, ku akui juga memang diri ini punya keterbelakangan mental, itu memang sudah saya sadari sejak kecil, sejak masa remaja, namun awalnya cuma di anggap biasa saja, tidak dianggap kelainan, namun waktu demi waktu, roda kehidupan tak pernah berhenti, waktu tak pernah mau mundur barang sekejap saja. beginilah saya, tidak seperti mereka, banyak rasasia hidup yang harus saya simpan rapat hingga berakhir hidup ini kelak, banyak sisi gelap kehidupan yang bukan tidak mungkin saya menghindar darinya, namun nafsu dunia itu juga kuat, bisikan negatif yang manis itu juga selalu ada.

Baru saya sadari kenapa saya begitu kehilangan kalau ditinggal teman, saya begitu terasa sedih bahkan sampai terpuruk ketika orang yang biasa menghabiskan waktu bersama kita harus pergi, pergi membawa kabar bahagia. dan walau tidak mungkin saya harus katankan padanya, walau tidak mungkin saya bersedih didepannya. tapi ketahuilah teman, saya bangga sudah mengenalmu, saya bersedih dengan kepergiannmu, walau tak banyak waktu yang kita habiskan bersama, itu sudah membekas di hati ini, rasa bersamamu itu sudah membuat ruang sendiri di jiwa ini, ruang yang mungkin tidak akan hilang oleh waktu, atau ruang yang akan hilang karena kesengajaan saya untuk melupakan rasa itu, tapi yakinlah ruang itu tetap ada, dan akan mekar kembali di saat yang tepat nanti, entah itu saat bersama kamu kembali, atau saat  bertemu di alam sedudah ini.

Teman, saya banyak belajar dari rasa ini, mengapa waktu yang kita habiskan bersama itu begitu tertanam di jiwa ini, justru disaat ketiadaaanmu disini, padahal diwaktu saat saya masih berharap ada waktu lain untuk bersama lagi, semua terasa biasa saja, bahkan kadang terasa bosan, apa itu karena kehebatanmu memenamakan budi di hati sahabatmu, apa itu ilmu yang kamu tekuni dalam dunia perkenalan? rasanya biasa saja.

Baru saya sadari pula, saya begitu kehilangan karena kamu satu-satunya yang ada saat saya membutuhkan teman, karena tidak ada lagi yang lain, entah karena saya yang tidak pandai berteman atau, karena mereka yang tidak punya waktu untuk saya, atau karena ada hal lain dari diri saya yang membentang sehingga tidak ada waktu buat mereka, sejujurnya saya akui saya lemah dalah hal ini. saya menggunakan cara yang kadang kurang wajar dalam hal ini, dan kadang juga di saat seperti ini sudah bukan waktunya lagi membutuhkan kawan baru, melainkan sahabat lama, sahabat kita sejak kecil, saudra kita.

Hingga sekarang rasa sepi itu selalu menemani saya, keadaan yang membuat jiwa ingi ingin memberontak, namun raga ini belum sanggup mengimbanginya, hingga saat nanti semua akan berubah, saat dimana semua menjadi indah, atau bahkan menjadi layu,, entahlah,,, yang kuinginkan sekarang hanyalah tempat untuk berbagi cerita, bercerita tentang masa lalu yang begitu indah, bercerita tentang sesuatu yang tidak ada isinya, hanya  untuk membuang rasa jenuh itu.

sahabatku, pernahkah terbesik dalam hatimu, bagaimana kabar saya sekarang? apa yang sedang saya lakukan sekarang???... ah lebai rasanya menanyakan itu di jaman seperti sekarang ini, dijaman saat orang memperhitungkan sesuatu hanya dari nilai materi, disaat sudah diakui kalau yang ada hanyalah kepentingan sejati, bukan sahabat sejati. disaat begitu tinggi ego manusia, sampai ada yang memlilih mengerjakan hal tersulit didunia dari pada disuruh megakui ada rasa merinndukan sahabat.
saya hanya pernah membaca suatu kisah yang salah satu pelakunya bertanya seperti ini kira-kira " pernahkan dalah hidup kamu, waktumu tersita hanya kepada satu orang? tidur, makan, kerja, semua tergenggu karena pikiranmu sedang tertuju pada satu objek"

Catatan ini berkisah tentang rasa persahatan saya di Kaimana, semoga tidak belebihan.
Previous
Next Post »
0 Komentar