Semua Gratis

Siapa pun pasti sangat menyukai hal yang satu ini; mendapatkan sesuatu secara cuma-cuma alias gratis. Dalam banyak kasus bahkan orang rela berebut untuk mendapatkan barang yang gratis. Pada sisi lain, sebagian pihak menilai barang yang gratis tidak punya nilai ekonomis. Sementara yang lain menganggap sesungguhnya tidak ada yang gratis, karena sejatinya yang gratis itu nilainya telah atau akan dikompensasi dari yang lain. Tapi percayalah, gratis kini menjadi sebuah fenomena ekonomi yang sangat dasyat, bahkan menjadi salah satu platform bisnis utama di era internet.

Gratis mengubah Masa Depan Kita

Simak saja, bagaimana model-model bisnis yang dijalankan oleh Google, Yahoo, Facebook, Youtube, Wikipedia, hingga Blackberry semua berbasis gratis. Yahoo misalnya meraih jutaan pengguna di seluruh dunia karena mereka membagi-bagikan akun alamat electronic mail (email) secara gratis. Pola yang sama diikuti oleh Google dengan Gmailnya. Lain lagi dengan facebook, siapa pun dapat menjadi bagian dari komunitas pergaulan (social media) tanpa harus membayar ini dan itu, cukup mendaftarkan diri secara gratis jadilah dia warga negara dunia maya. Youtuber dan Wikipedia lebih radikal lagi, untuk mengunduh dan menyaksikan tayangan video yang berjumlah jutaan yang tersimpan di Youtube orang cukup masuk ke situs Youtube. Sementara untuk yang hendak mengunggah video dapat melakukannya dengan terlebih dahulu menjadi member, itu pun gratis. Wikipedia lebih dasyat lagi, siapa pun bisa mengunduh naskah ensiklopedi yang meruntuhkan kejayaan Ensiklopedia Britanica dan Americana itu. Dengan mekanisme tertentu siapa pun bisa menyunting, memperbaiki dan melengkapi naskah-naskah yang telah ditulis orang lain dan ditampilkan di situs ini. Semuanya gratis.

Logikanya, yang gratis itu tak ekonomis. Tapi dalam banyak fakta, justru yang gratis menjadi bisnis yang luar biasa bernilai ekonomi tinggi. Mark Zuckerberg adalah anak muda pemilik situs Facebook yang mendadak kaya raya berkat situs gratisnya itu. Demikian pula jimmy Wales sang pemilik Wikipedia, atau Larry Page dan Sergei Brin sang pemilik Google, maupun Jerry Yang dan David Filo pendiri Yahoo, mereka setidaknya hidup berkecukupan, tak kalah dengan Bill Gates yang menciptakan dan menjual perangkat lunak Operating System Microsoft Windows atau Steve Jobs yang berdagang perangkat keras Macintosh beserta turunannya seperti Ipad yang fenomenal.

 

Fenomena Gratis

Sebenarnya, gratis dalam dunia bisnis bukan barang baru. Christ Anderson, seorang mantan editor majalah The Economist menulis buku yang menjadi best seller di Amerika Serikat tahun 2009 berjudul Free: The Future of a Radical Price (diterbitkan versi  bahasa Indonesia oleh Gramedia 2010). Buku ini mengungkap bagaimana gratis menjadi sebuah ekonomi baru yang telah berkembang seiring dengan pendekatan modern dalam bisnis. Dikisahkan olehnya bahwa di Amerika Serikat pada tahun 1902 adalah Woodward pemilik perusahaan Genesee yang memproduksi gelatin bermerk Jell-O memasang iklan di harian Ladies'Home Journal. Iklannya menyatakan bahwa Jell-O adalah Hidangan Penutup Paling Terkenal di Amerika Serikat. Masih menurut iklan itu, "Produk ini dapat disajikan dengan penambahan krim dan puding yang sederhana. Tapi jika anda menginginkan sesuatu yang mewah, ada ratusan kombinasi lezat yang dapat disiapkan dengan cepat." Untuk keperluan itu Genessee mencetak puluhan ribu selebaran yang berisi resep-resep Jell-O dan melalui para petugas penjualannya brosur itu dibagikan kepada ibu-ibu rumah tangga secara gratis. Taktik ini, konon membuat Jell-O menjadi makanan penutup paling populer dan melonjakkan penjualan produk itu ratusan kali lipat. Pada tahun 1904 saja mereka meraup pendapatan satu juta dolar Amerika Serikat. Taktik gratis seperti ini kemudian menjadi model bisnis yang banyak diikuti oleh pelaku-pelaku usaha yang lain hingga kini.

Masih menurut Anderson, dalam ekonomi konvensional sebenarnya esensi gratis adalah subsidi silang. Kita memperoleh sebuah barang secara gratis tapi sebenarnya sang penjual atau sang produsen telah memperoleh pendapatan dari penjualan atau produk yang lain yang terkait dengan barang atau jasa yang gratis tadi. Siaran radio atau televisi sebenarnya menjadi contoh paling baik untuk hal ini. Kita dapat mendengarkan acara di radio atau menonton din televisi secara gratis, sebagai kompensasinya kita harus membaca atau menyaksikan iklan-iklan yang ditayangkan dalam acara itu. Sebab, dari para pengiklan itulah pengelola radio dan televisi memperoleh pendapatan untuk membiayai produksi dan bahkan meraih keuntungannya.

Ada empat jenis gratis yang saat ini berkembang dalam ekonomi kita. Pertama, Gratis sebagai bentuk subsidi silang langsung. Gratis seperti ini paling lazim kita temukan saat ini. Beli satu gratis satu adalah contohnya. Teknik bundling product juga masuk jenis ini, seperti membeli perangkat handphone gartis nomor beserta pulsanya. Tentu saja, sebenarnya tetap membayar produk yang disebut gratis itu, namun caranya melalui produk lain atau dengan cara yang lain.

Kedua, gratis sebagai pasar tripartit. Gratis yang dipraktikkan untuk menonton acara televisi dan mendengarkan siaran radio merupakan praktik dari gratis sebagai pasar tripartit. Anda sebagai pihak kedua memperolehnya secara gratis dari pengelola media sebagai pihak pertama, dan para pengiklan sebagai pihak ketiga membiayai aktivitas tersebut.

Ketiga, gratis sebagai bentuk Freemium. Gratis jenis ini makin populer pada bisnis dunia maya. Anda mendapatkan layanan email versi gratis dari Yahoo tentu dengan sejumlah layanan standar dan kapasitas yang terbatas. Tapi bagi anda yang bersedia membayar sekian dolar, maka Anda akan mendapatkan berbagai layanan lainnya plus tambahan kapasitas bagi email Anda. Ini yang dikenal sebagai layanan Freemium, sebuah modifikasi dari layanan Premium yang tidak gratis itu.

Keempat, Gratis sebagai pasar nonmoneter. Gratis ini memang benar-benar memang gratis dalam arti yang sebenarnya, ketika suatu hal dibagikan secara cuma-cuma tanpa dikutip bayaran kepada siapa pun yang membutuhkan. Gratis jenis ini sekarang lagi marak di dunia maya. Wikipedia salah satu contohnya, Jimmi Wales tidak bermaksud untuk meraup keuntungan material apa pun dari pengembangan ensiklopedia online itu. Karenanya, ia memberi kesempatan seluas-luasnya kepada siapa pun yang memiliki informasi pengetahuan untuk menulis dan memuat di Wikipedia, sementara pihak lain boleh mengoreksi dan melengkapi, dan yang lain lagi silakan mengunduh untuk kepentingan masing-masing. Semuanya dilakukan secara gratis. Hanya Jimmy Wales tetap saja memerlukan uang untuk membayar karyawan di kantornya serta ongkos penggunaan bandwith komputernya. Untuk yang satu ini, setiap akhir tahun Jimmy Wales cukup membuat surat terbuka kepada pembacanya dan mengumumkan berapa besar dana yang dia butuhkan tahun depan agar Wikipedia beserta proyek-proyek lainnya bisa berjalan. Lalu, dia buka rekening "kencleng" secara online, anda boleh menyumbang berapa saja. Setelah rekening itu terpenuhi sebesar yang dibutuhkan, kencleng pun ditutup.

Dengan cara demikian, Wikipedia telah menjadi raksasa penyedia informasi yang menggoyahkan sistem kapitalisme informasi yang selama ini begitu mapan. Pada saat media-media informasi konvensional runtuh, wikipedia justru semakin berkibar. Bahkan Wikipedia telah menjadi rujukan siapa pun yang memerlukan informasi tentang apapun di muka bumi ini. Model bisnis gratisnya kini makin banyak ditiru oleh pihak lain di seluruh dunia.

Gratis di kantor Pos.

Pertanyaannya apakah Pos Indonesia mempraktikkan gratis dalam aktivitas bisnisnya? Tak banyak yang mengetahui bahwa gratis sudah dipraktikkan oleh Pos Indonesia jauh-jauh hari. Masih ingat Kartupos Kiriman Balasan? Layanan yang populer tahun 1980-an ini biasa digunakan dalam pemasaran majalah. Pada majalah sering disisipkan kartu pos yang dikenal sebagai kartu pos Kirbal (Kiriman Balasan) yang biasanya digunakan untuk konsumen mengirimkan permintaan berlangganan atau pembelian sesuatu barang. Selanjutnya kartu pos tersebut bisa langsung diposkan di Kantor Pos terdekat tanpa yang bersangkutan harus membeli prangko untuk bea kirimnya. Kemudian, kartu-kartu pos kirbal yang terkumpul oleh Pos diserahkan kepada pihak yang menerbitkan kartu pos tersebut. Tentu saja, Pos mendapatkan biaya atas penyerahan kirbal itu dari pihak penerbit kartu pos sesuai jumlah yang diserahkan.

Kini layanan keuangan Pos juga menerapkan praktik gratis, utamanya gratis jenis pertama. Jika Anda membayar rekening tagihan kartu kredit tertentu atau cicilan kendaraan bermotor di Kantor Pos, Anda tak dikenakan biaya. Sebagai gantinya, pihak mitra kami lah yang akan menanggung ongkos-ongkos yang timbul atas pembayaran Anda tersebut sesuai kesepakatan yang berlaku.

Tentu saja, bagi Pos Indonesia gratis sebagai platform ekonomi baru sangat menjadi pertimbangan. Bukan tidak mungkin pada masa yang akan datang Anda pun akan memperoleh kotak pos (PO BOX) secara cuma-cuma (yang pada masa sebelumnya harus menyewa), dengan ketentuan Anda cukup melakukan registrasi dengan mengisi jatidiri plus nomor telepon yang bisa dihubungi. Selanjutnya, setiap surat yang ditujukan kepada Anda cukup kami kirim ke kotak pos Anda. Nah, jika Anda bersedia membayar sedikit tambahan biaya, maka setiap keberadan surat yang masuk ke kotak pos Anda akan diinformasikan melalui SMS secara online. Semoga saja hal ini dapat kami wujudkan dalam waktu dekat. Layanan Pos gratis, mengapa tidak ! ***

 

(Sumber : Kabar Dari Pos Edisi 22 tahun 2011)


[ ++ TAGLINE ++ ] Ingin kirim uang secepat SMS ? Gunakan weselpos instan ! Langsung cair tanpa rekening. Hubungi Kantor Pos terdekat !


Previous
Next Post »