Logo Persekutuan Silat Kebangsaan Malaysia PESAKA

Logo Persekutuan Silat Kebangsaan Malaysia PESAKA
 AJARAN BUDI PEKERTI LUHUR SEBAGAI
DIMENSI KEJIWAAN PENCAK SILAT
PENDAHULUAN
Pencak Silat sebagai bagian integral dari budaya masyarakat Nusantara, dalam substansinya yang utuh dan asli, memiliki dua dimensi yang tak dapat dipisahkan satu dengan lainnya, walaupun dapat dibedakan, yakni dimensi kejiwaan dan dimensi kejasmanian. Dalam tulisan ini, yang dimaksud dengan Nusantara adalah suatu wilayah yang meliputi Indonesia, Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam.
Dimensi kejiwaan Pencak Silat adalah ajaran budi pekerti luhur, sedangkan dimensi kejasmani-annya adalah teknik-teknik Pen-cak Silat yang beraneka ragam dan berbeda-beda. Masing-masing mempunyai sifat dan cara pengkinerjaannya sendiri.
Dimensi kejiwaan dan dimensi kejasmanian Pencak Silat mengandung 4 nilai sebagai satu kesatuan, yaitu nilai-nilai etis, teknis, estetis dan atletis Manifestasi dari nilai-nilai tersebut adalah empat aspek Pencak Silat sebagai satu kesatuan, yaitu aspek mental-spiritual, beladiri, seni dan olahraga.
Keempat nilai ini merupakan sumber bagi lahir, tumbuh dan berkembangnya empat cabang Pencak Silat, yaitu Pencak Silat Mental-Spiritual, Pencak Silat Beladiri, Pencak Silat Seni dan Pencak Silat Olahraga. Masing-masing memiliki aspek mental-spiritual, beladiri, seni dan olahraga sebagai satu kesatuan tetapi dengan penekanan pada salah satu aspek sesuai dengan kecabangannya.
Keempat cabang Pencak Silat ini, beserta aliran-alirannya, dilesta-rikan, dikembangkan dan dima-syarakatkan oleh perguruan-perguruan dan organisasi-organisasi Pencak Silat dalam bentuk pendidikan, pengajaran dan pelatihan serta berbagai kegiatan lainnya.

NILAI-NILAI PENCAK SILAT
Nilai-nilai Pencak Silat adalah semua hal yang dijunjung tinggi serta mewarnai, menjiwai, memotivasi dan mempedomani kehidupan Pencak Silat.
Pencak Silat mempunyai empat nilai sebagai satu kesatuan, yakni : nilai etis, teknis, estetis dan atletis. Nilai etis adalah nilai budi pekerti luhur yang secara implisit dan inheren mengandung nilai-nilai agama sosial dan budaya yang dijunjung tinggi oleh masyarakat. Nilai etis berguna bagi kepentingan perdamaian dan persahabatan antar-manusia, antar-kelompok manusia dan antar-masyarakat. Nilai teknis adalah nilai efektif, efisien dan produktif. Nilai ini berguna bagi kepentingan perkelahian untuk membela diri. Nilai estetis adalah nilai keindahan, keselarasan dan keserasian. Nilai ini berguna bagi kepentingan hiburan dan kese-nangan. Nilai atletis (sportis) adalah nilai keolahragaan yang berguna bagi kepentingan membina kesehatan, kebugaran dan ketahanan tubuh.
Keempat nilai tersebut berkaitan erat dengan cita-cita sosial dan moral individual di kalangan masyarakat-masyarakat Nusan-tara. Nilai-nilai etis dan teknis mengacu pada pemenuhan kebutuhan dan kepentingan akan keamanan, sedangkan nilai-nilai estetis dan atletis mengacu pada pemenuhan kebutuhan dan kepentingan akan kesejahteraan. Keduanya meliputi segi kejiwaan dan jasmaniah.
Nilai-nilai etis, teknis, estetis dan atletis sebagai satu kesatuan, selain merupakan nilai-nilai Pencak Silat juga merupakan corak khas dan keistimewaan Pencak Silat yang bersumber dari budaya masyarakat Nusantara. Keempat nilai tersebut merupakan intisari dari jatidiri Pencak Silat.
JATIDIRI PENCAK SILAT
Jatidiri Pencak Silat sebagai suatu totalitas, yang secara kumulatif menunjukkan kesejatian, keutuhan, keaslian dan keunikan Pencak Silat, ditentukan oleh empat hal utama sebagai satu kesatuan.
Hal yang pertama adalah budaya masyarakat Nusantara sebagai asal dan sumber corak khas Pencak Silat, baik dimensi kejiwaannya maupun dimensi kejasmaniannya. Masyarakat Nusantara pada waktu melahirkan Pencak Silat adalah masyarakat paguyuban (Gemein-schaft). Budaya yang melandasi maupun yang dihasilkan oleh masyarakat ini adalah budaya paguyuban, yakni budaya kerukunan, kekeluargaan, kekera-batan, kebersamaan, kesetiaka-wanan, ketenggangrasaan dan kegotongroyongan, yang mewa-jibkan setiap warga masyarakat untuk senantiasa menampilkan sikap, perbuatan dan perilaku
(1) silih-asih, silih-asah dan silih-asuh (bahasa Sunda), yakni saling mencintai, saling membina dan saling mengerti,
(2) melu handarbeni, melu hangrungkebi, mulat saliro hangroso wani (bahasa Jawa) yakni ikut memiliki, ikut bertanggungjawab serta berani melakukan koreksi dalam kaitan dengan kebaikan masyarakat,
(3) lebih menguta-makan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi, lebih mengutamakan kewajiban dari-pada hak, serta
(4) musyawarah, silaturahmi dan saling menolong. Cita-cita masyarakat paguyuban adalah terwujudnya tata-tentrem karta-rahardja (baha-sa Jawa), yang artinya tertib, tenteram, adil dan sejahtera. Cita-cita sosial ini harus dilandaskan pada dan dipadukan dengan cita-cita individual warga masyarakat, yakni budi pekerti luhur.

Hal yang kedua adalah ajaran moral khas versi masyarakat Nusantara sebagai basis keji-waan Pencak Silat dan sebagai sumber motivasi penggunaan Pencak Silat. Setiap masyarakat etnis dan lokal di kawasan Nusantara memiliki ajaran moral tersendiri. Semua ajaran ini memiliki kesamaan dalam tujuannya, yakni membentuk manusia yang berbudi pekerti luhur. Karena itu, semua falsafah dan ajaran moral lokal itu secara umum dapat disebut sebagai ajaran budi pekerti luhur. Semua amalan warga masyarakat dalam bentuk sikap, perbuatan dan perilaku, termasuk yang menyangkut pelaksanaan dan penggunaan Pencak Silat, harus dilandaskan pada ajaran moral ini. Dengan demikian, ajaran budi pekerti luhur harus menjiwai dan menjadi basis kejiwaan Pencak Silat serta menjadi sumber motivasi penggunaan Pencak Silat. Menurut pandangan ajaran ini, Pencak Silat sebagai sistem beladiri yang efektif harus menjadi sarana yang mulia dan digunakan untuk tujuan yang mulia pula. Hal tersebut berarti bahwa Pencak Silat hanya boleh digunakan untuk pembelaan diri. Apabila Pencak Silat harus digunakan dalam perkelahian, pelaksanaannya harus selalu terkendali dan terukur. Menyerang secara sewenang-wenang dan semena-mena merupakan tindakan yang terlarang.
Pencak Silat harus dipandang sebagai kekuatan penangkal dan kekuatan pencegah. Kekuatan penangkal adalah kekuatan yang akan mendorong lawan untuk berpikir dan membuat perhitung-an berulang-ulang jika ia akan menyerang secara fisik. Kekuatan pencegah adalah kekuatan untuk selalu waspada dan hati-hati. Pencak Silat sebagai kekuatan penindak hanya digunakan sebagai pilihan terakhir dan dalam keadaan terpaksa (ultimum remidium).
Hal yang ketiga adalah manifestasi nilai-nilai Pencak Silat dalam empat aspek amalan atau tampilan sebagai satu kesatuan, yakni aspek mental-spiritual, beladiri, seni dan olahraga. Keempat aspek Pencak Silat ini dapat disebut juga sebagai aspek etis, teknis, estetis dan atletis.
Semuanya itu tak dapat dipisahkan satu sama lain tetapi dapat dibedakan berdasarkan pada tujuannya. Aspek mental-spiritual menggambarkan tujuan pembentukan mental manusia Pencak Silat sejati. Aspek beladiri menggambarkan tujuan pembelaan diri dengan mengkinerjakan dan mengguna-kan teknik-teknik khas Pencak Silat. Aspek seni menggambar-kan tujuan keindahan tampilan Pencak Silat. Aspek olahraga menggambarkan tujuan keolahragaan Pencak Silat, yakni kebugaran, ketangkasan dan prestasi olahraga.
Dalam kerangka cita-cita sosial masyarakat paguyuban Nusanta-ra, tujuan aspek mental-spiritual dan beladiri berkaitan dengan faktor keamanan, sedangkan aspek seni dan olahraga berhu-bungan dengan faktor kesejah-teraan.
Hal yang keempat adalah kaidah atau pakem, yakni aturan dasar mengenai tata-cara dan tata-krama pelaksanaan Pencak Silat. Kaidah ini mengandung ajaran moral serta nilai-nilai dan aspek-aspek Pencak Silat sebagai satu kesatuan. Dengan demikian, aturan dasar yang disebut pakem atau kaidah Pencak Silat itu mengandung norma etika, logika, estetika dan atletika. Kaidah ini dapat diartikan sebagai aturan dasar yang mengatur pelaksanaan Pencak Silat secara etis, teknis, estetis dan atletis sebagai satu kesatuan.
Berdasrkan pada jatidiri Pencak Silat tersebut, Pencak Silat dapat didefinisikan secara hilistik sebagai suatu sistem gerak berpola yang mempunyai nilai-nilai pengendalian diri, pembe-laan diri, keindahan dan kesera-sian gerak serta pembentukan ketangkasan, kebugaran dan ketahanan fisik sesuai dengan keluhuran nilai-nilai Pencak Silat. Semuanya itu didasarkan pada ajaran budi pekerti luhur serta buaya masyarakat Nusantara yang menjunjung tinggi moralitas agama dan masyarakat.
AJARAN BUDI PEKERTI LUHUR
SEBAGAI DIMENSI KEJIWAAN PENCAK SILAT

Setiap sistem beladiri, dari manapun asalnya, selalu memiliki dimensi kejiwaan yang sekaligus juga berfungsi sebagai basis kejiwaan. Dimensi atau basis kejiwaan suatu sistem beladiri, biasanya adalah suatu falsafah atau ajaran moral masyarakat dan budaya dari mana sistem beladiri itu berasal. Sistem beladiri Cina, Jepang dan Korea, masing-masing berbasiskan pada falsafah atau ajaran moral masyarakat serta budaya Cina, Jepang dan Korea. Adanya basis kejiwaan ini merupakan keper-luan, kebutuhan dan keharusan, karena masyarakat dari mana sistem beladiri itu berasal, sangat sadar bahwa sistem beladiri ini akan membahayakan manusia dan masyarakat apabila tidak ada pengendalinya. Falsafah atau ajaran moral yang dijunjung tinggi dan sangat dipatuhi oleh masyarakat merupakan pengendali dan sekaligus juga sumber motivasi dalam penggunaan sistem beladiri itu.
Pencak Silat sebagai sistem beladiri, yang berasal dari budaya masyarakat-masyarakat lokal dan etnis Nusantara, juga mempunyai basis falsafah atau ajaran moral yang dijunjung tinggi dan dipatuhi oleh masyarakat-masyarakat yang bersangkutan. Falsafah atau ajaran moral ini sebagai dimensi kejiwaan Pencak Silat merupakan satu kesatuan dan satu paket dengan dimensi kejasmaniannya. Pengajaran dan pelatihan teknik-teknik Pencak Silat dan kiat-kiat pengkinerjaannya harus dilakukan bersama-sama dan sejajar dengan pendidikan falsafah atau ajaran moral yang merupakan jiwa, pengendali dan sumber motivasi penggunaan Pencak Silat. Tanpa adanya pengendali, Pencak Silat berpotensi dan berkecenderungan untuk digunakan secara tidak bertang-gungjawab, dan karena itu, akan membahayakan manusia dan masyarakat.
Di wilayah Nusantara, falsafah atau ajaran moral cukup banyak, sama banyak dengan masyarakat lokal dan etnis tempat falsafah atau ajaran tersebut berasal. Tetapi semuanya itu mempunyai inti, dasar dan tujuan yang sama, yakni keyakinan mengenai adanya Tuhan, bahwa manusia berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan. Karena manusia berasal dari Tuhan, maka status manusia adalah mulia. Agar manusia dengan statusnya yang mulia itu dapat diterima oleh Tuhan dengan sebaik-baiknya apabila pada waktunya nanti ia kembali atau pulang kepada-Nya, maka selama hidup maupun dalam kehidupan dan perjalanan hidupnya ia wajib beriman kepada Tuhan, yakni percaya dan berserah diri kepada-Nya serta wajib bertaqwa kepada-Nya, yakni mengamalkan ajaran-ajaran Tuhan. Semuanya itu dilakukan secara konsisten, konsekuen dan berlanjut. Niat dan amalan-amalannya semata-mata karena Tuhan. Tujuan hidupnya adalah untuk mendapatkan ridho Tuhan. Manifestasi kejiwaan dalam wujud moral individual dari keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan adalah budi pekerti luhur.
Dengan demikian, falsafah atau ajaran moral masyarakat lokal dan etnis yang banyak itu di wilayah Nusantara, dapat digeneralisasikan dengan nama falsafah atau ajaran budi pekerti luhur. Dengan perkataan lain, ajaran budi pekerti luhur adalah generalisasi dan nama umum dari ajaran moral masyarakat-masyarakat lokal dan etnis Nusantara.
Budi adalah kegiatan kejiwaan manusia yang tiga unsur sebagai satu kesatuan, yakni karsa, rasa dan cipta (bahasa Jawa Kuno), yakni kegiatan kehendak, perasaan dan penalaran Pekerti adalah ahlak. Pekerti mencer-minkan budi. Luhur berarti mulia atau terpuji Dengan demikian, makna budi pekerti luhur adalah kegiatan kehendak, perasaan, penalaran dan ahlak yang mulia berlandaskan pada keimanan dan ketaqwaan yang teguh kepada Tuhan. Karsa menentukan keharusan (kewajiban) dan larangan, rasa menentukan baik dan buruk, cipta menentukan benar dan salah. Karena itu, karsa berkaitan dengan mental-spiritual (moral), rasa dengan emosi dan cipta dengan kecerdasan. Manifestasi lahiriah dari budi pekerti luhur dalam wujud amalan individual adalah sikap, perbuatan dan perilaku yang mulia atau terpuji.

Ajaran budi pekerti luhur mewejang kepada manusia agar terus-menerus mengolah dan membina budi pekertinya secara optimal yang diarahkan pada perwujudan kearifan moral, emosional dan inteligensial. Kearifan di sini berarti kemampuan memilah dan memilih secara benar dan tepat dalam kerangka usaha untuk mewujudkan suatu kemuliaan. Pengolahan dan pembinaan karsa bahkan harus diarahkan pada perwujudan kemanunggalan karsa manusia dengan Karsa Tuhan. Selain itu, memposisikan, memfungsikan dan memerankan karsa sebagai pemimpin, pengarah dan pengendali rasa, cipta dan ahlak. Dengan cara demikian, semua amalan manusia akan didasarkan pada kearifan dan akan selaras dengan Karsa Tuhan. Hal itu berarti bahwa semua amalan itu akan mendapat ridho Tuhan dan akan menjadikan manusia bernilai di hadapan Tuhan maupun sesama manusia.
Dengan demikian, ajaran budi pekerti luhur merupakan pandangan hidup dan wejangan tentang kearifan. Karena terwariskan dan harus senantiasa dijunjung tinggi oleh warga masyarakat, maka ajaran budi pekerti luhur yang religius itu dapat diartikan sebagai pandangan hidup dan kearifan tradisional masyarakat-masyara-kat Nusantara.
Falsafah adalah pandangan dan kebijaksanaan hidup manusia dalam kaitan dengan nilai-nilai sosial, budaya, moral dan agama yang dijunjung tinggi oleh masyarakat. Menurut persepsi masyarakat lokal dan etnis Nusantara, falsafah mengandung ajaran, dan sebaliknya, ajaran mengandung falsafah. Ajaran inheren pada falsafah dan falsafah inheren pada ajaran. Falsafah dan ajaran sama-sama memformulasikan pandangan tentang dan wejangan bijaksana kepada manusia dalam hidup, kehidupan dan perjalanan hidup-nya. Substansi wejangan meliputi petunjuk-petunjuk untuk dilaksa-nakan dan larangan-larangan untuk dijauhi. Dengan demikian, falsafah budi pekerti luhur dapat disebut juga sebagai ajaran budi pekerti luhur. Keduanya mempunyai arti yang sama.
Ajaran budi pekerti luhur adalah ajaran moral yang ber-Ketuhanan. Menurut ajaran ini, manusia dalam hidup, kehidupan dan perjalanan hidupnya mempu-nyai empat macam kedudukan mulia sebagai satu kesatuan.
Yang pertama adalah kedudukan sebagai mahluk Tuhan, karena manusia berasal dari dan akan kembali kepada Tuhan. Tuhan adalah asal dan tujuan hidup semua manusia. Karena manusia berasal dari Tuhan, maka manusia adalah mulia. Agar manusia dapat diterima dengan baik oleh Tuhan dan ditempatkan dengan baik di sisinya pada waktu ia kembali kepadanya, maka selama hidupnya ia harus menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur.
Yang kedua adalah kedudukan sebagai mahluk pribadi, karena setiap manusia mempunyai kepribadian tersendiri yang unik dan berbeda dengan manusia lain. Kepribadian merupakan karakteristik seseorang manusia.
Yang ketiga adalah kedudukan sebagai mahluk sosial, karena di dunia ini manusia tidak hidup sendiri tetapi hidup dalam satu masyarakat bersama-sama de-ngan manusia-manusia lain.
Yang keempat adalah kedudukan sebagai mahluk alam semesta, karena manusia hidup di suatu lingkungan yang merupakan bagian integral dari alam semesta beserta isinya (ekologinya) yang diciptakan oleh Tuhan untuk manusia sebagai karunia-Nya.
Untuk masing-masing kedudukannya itu, manusia mempunyai kewajiban mulia (noblesse oblige) yang harus dipenuhi. Kewajiban mulia manusia sebagai mahluk Tuhan, adalah beriman dan bertaqwa kepada Tuhan serta senantiasa menegakkan nilai-nilai agama. Kewajiban mulia manusia sebagai mahluk pribadi, adalah meluhurkan pribadinya dan senantiasa menegakkan nilai-nilai moral pribadi. Kewajiban mulia manusia sebagai mahluk sosial, adalah menegakkan perdamaian dan persahabatan serta nilai-nilai moral sosial dan kultural. Kewajiban mulia manusia sebagai mahluk alam semesta, adalah mencintai lingkungan hidupnya dan senantiasa mene-gakkan nilai-nilai moral natural-universal. Semua kewajiban itu saling terkait dan berhubungan satu sama lain serta diarahkan untuk mencapai satu tujuan, yakni mendapatkan ridho Tuhan. Kewajiban mulia itu diuraikan secara singkat di bawah ini.
Sebagai mahluk Tuhan, kewajiban mulia manusia adalah antara lain : menyembah Tuhan menurut tata-cara agama yang berlaku sebagai rasa terima kasih atas eksistensi diri dan hidupnya serta berbagai karunia-Nya yang lain ; mengamalkan ajaran Tuhan dan agama dalam kehidupan pribadi dan sosialnya maupun kehidupannya di alam semesta ; melaksanakan petunjuk-petunjuk Tuhan dan menjauhi larangan-larangan-Nya, bukan hanya dalam kehidupan keagamaannya tetapi juga dalam kehidupan pribadi, kehidupan kemasyarakatan dan kehidupan di alam semesta ; sikap, perbuatan dan perilakunya selalu terkendali, terukur dan terarah agar selalu berada di jalan Tuhan ; ikhtiar-ikhtiarnya untuk mencapai tujuan tidak dilakukan dengan mengha-lalkan segala cara (finis non santificat medium) tetapi dilakukan dengan cara yang dibenarkan oleh dan ditunjukkan dalam ajaran Tuhan.
Sebagai mahluk pribadi, kewajib-an mulia manusia adalah antara lain : bijaksana, cerdas, cerdik, cekatan, cendekia dan terampil, selalu hati-hati dan berjaga-jaga, mampu menganti-sipasi dan selalu mendahului tantangan dan mampu memimpin dirinya sendiri ; peka, peduli dan cepat me-nyesuaikan diri pada perubahan dan perkembangan, ulet dan dapat mengembangkan kemam-puan dalam mengatasi kesulitan dan permasalahan, memegang teguh prinsip dan rajin, kreatif, inovatif, cergas, tangkas dan selalu mengejar kemajuan ; senantiasa mawas diri, menilai diri, memperbaiki diri, menjaga kewibawaan dan martabat diri ; berpikir luas, prospektif, obyektif, logis, kritis dan positif ; mengendalikan diri dan kepen-tingan pribadi ; berbuat yang terbaik, sabar, dapat dipercaya, bersungguh-sunguh pada hal-hal yang prinsipiil, menghargai waktu dan optimis ; menegak-kan disiplin pribadi, kebenaran, kejujuran dan keadilan serta tahan-uji terhadap segala cobaan dan godaan ; bertanggungjawab atas penampilan sikap, perbuatan dan perilakunya ; berpola hidup efektif, efisien, produktif, sederhana, hemat, murah hati, rendah hati, bersih hati, tahu diri ; mau menerima nasihat orang lain, ramah, santun, tidak mudah marah, frustrasi dan putus asa ; tidak suka egosentrik, mengeluh, sombong, iri, dengki, buruk sangka, bersikap apriori, menyu-sahkan orang lain, munafik dan suka bekerja keras.
Sebagai mahluk sosial, kewajiban mulia manusia adalah, antara lain : menghargai serta senanti-asa menegakkan kebersamaan, kerukunan, kegotongroyongan, persaudaraan dan kesetia-kawanan sosial ; menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan diri sendiri ; mematuhi dan menegakkan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakatnya ; peduli pada persoalan dan pembangunan masyarakatnya ; mau mengerti kepentingan pihak lain, moderat, menghargai perbedaan pendapat ; senantiasa bertenggangrasa, suka bergaul dan santun dalam pergaulan, berketeladanan dalam memimpin, melakukan pendekat-an dengan cara yang dapat diterima, suka bersilaturahmi, bersedia minta maaf jika bersalah dan bersedia memberi maaf jika diminta, terbuka terhadap nasihat, saran, kritik dan koreksi pihak lain, mendukung dan menegakkan disiplin sosial dan kepemimpinan sosial yang konsisten dan konsekuen, dewasa secara sosial, suka bermusyawarah dalam menyelesaikan masalah, suka menolong orang yang sedang dalam kesulitan dan kesusahan, tidak berpikiran sempit, fanatik, primordialistik dan sektarian.
Sebagai mahluk alam semesta, kewajiban mulia manusia adalah antara lain : mencintai alam seisinya berupa lingkungan hidup, flora, fauna dan lain-lainnya sebagai karunia Tuhan untuk manusia ; mengamankan, melestarikan serta meningkatkan kondisi, keseimbangan dan kualitas alam semesta agar menjadi kondusif bagi eksistensi serta perkembangan dan pengembangan hidup manusia serta dapat memberi kemajuan, kesejahteraan dan kebahagiaan kepada manusia ; senantiasa menegakkan etika dan disiplin lingkungan hidup dengan memelihara kebersihan, kesehatan, ketertiban, keteraturan dan kenyamanannya serta mencegah dan mengatasi berbagai bentuk pencemaran dan perusakan lingkungan.
Bagian utama dari ajaran budi pekerti luhur adalah disiplin dan kepemimpinan Pencak Silat. Disiplin Pencak Silat pada dasarnya adalah disiplin pribadi dan disiplin sosial. Disiplin ini wajib ditegakkan oleh seluruh warga masyarakat, sedangkan kepemimpinan harus ditegakkan oleh mereka yang oleh masyarakat atau suatu kelompok masyarakat diakui dan diterima sebagai pemimpin.
Disiplin mempunyai tiga penger-tian sebagai satu kesatuan. Pengertian yang pertama adalah sikap selalu menegakkan kaidah-kaidah, nilai-nilai dan tuntutan-tuntutan agama serta tata-susila sosial. Pengertian yang kedua adalah ketaatan dan kepatuhan yang jujur, ikhlas, mandiri, konsekuen dan bertanggung-jawab terhadap peraturan, tata-susila, tata-krama dan kesepa-katan yang absah. Pengertian yang ketiga adalah kesanggupan untuk mengendalikan dan menata diri.
Berdasarkan pada pengertian tersebut, melaksanakan dan menegakkan disiplin mempunyai multi-nilai, antara lain : nilai keimanan dan ketaqwaan yang teguh kepada Tuhan, nilai amalan yang mulia dan terpuji, nilai tanggungjawab pribadi dan tanggungjawab sosial, nilai kebersamaan dan kesetiaka-wanan sosial, nilai pengabdian sosial, nilai toleransi, tenggang-rasa dan kepedulian sosial, serta nilai kedewasaan mental-spiritual dan sosial.
Kepemimpinan adalah kemampuan mempengaruhi orang banyak dalam pencapaian tujuan bersama. Kepemimpinan menurut ajaran budi pekerti luhur bukan kepemimpinan yang didasarkan pada kekuatan fisik ataupun kekuasaan formal, tetapi pada kewibawaan yang terbentuk dari kepribadian, keteladan dan pengabdian si pemimpin yang diterima oleh banyak orang lain karena kepemimpinan tersebut telah membentuk kemampuan-kemampuan yang berguna bagi kehidupan mereka, termasuk kemampuan memimpin diri mereka sendiri untuk mewujud-kan kemajuan yang bermutu, mulia dan berguna bagi diri, kelompok dan masyarakat mere-ka . Karena itu, orang-orang lain ini bersedia dan merasa senang menjadi pengikut si pemimpin.
Dengan kualifikasinya yang demikian itu, kepemimpinan menurut ajaran budi pekerti luhur mempunyai tiga sifat sebagai satu kesatuan, yakni sifat asih, asah dan asuh. Asih adalah sifat senantiasa memahami aspirasi, kepentingan, harga diri dan persoalan pengikut, setia kepada anak-buah, dekat dan akrab serta membina silaturahmi dengan pengikut. Asah adalah sifat senantiasa mawas diri, memper-baiki diri dan mening-katkan kualitas diri serta membangun, memelihara dan meningkatkan kecerdasan maupun kearifan spiritual, moral, emosional dan intelektual pengikut. Asuh adalah sifat senantiasa memotivasi, mengarahkan, membimbing dan mengayomi pengikut secara persuasif dan edukatif, serta melayani dan memberi dorongan maupun kesempatan yang kondusif pada pengikut untuk terus maju.

Menurut ajaran budi pekerti luhur, kepemimpinan yang bersifat asih, asah dan asuh itu harus dilaksanakan berdasarkan tujuh asas sebagai satu kesatuan, yakni asas ketaqwaan kepada Tuhan, keteladanan, kekeluargaan, kesetiakawanan, keseder-hanaan, kekesatriaan dan kecendikiawanan. Berdasarkan pada asas-asas tersebut, kepemimpinan berkaitan dan dikaitkan dengan :
(1) amanah Tuhan yang diamalkan untuk membentuk menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur,
(2) teladan-teladan terpuji dalam menegakkan nilai-nilai agama, moral dan sosial-budaya yang dijunjung tinggi oleh masyarakat,
(3) semangat kekeluargaan yang menjiwai interaksi antara pemim-pin dengan pengikut dan antar para pengikut,
(4) sikap setiakawan dan peduli pemimpin kepada pengikut, dan sebaliknya, pengikut kepada pemimpin dan antar para pengikut,
(5) kesederhanaan berpikir dan bertindak dalam upaya mencapai tujuan,
(6) penegakan kebenaran, kejujuran dan keadilan serta penguatan daya pengendalian diri, rasa tanggungjawab dan ketahanan mental dalam menghadapi cobaan dan godaan, dan
(7) pembentukan dan pemeliharan kecerdasan dan keterampilan, kemampuan me-mimpin diri sendiri, kewibawaan, kebijaksanaan, kemampuan mengantisipasi dan berjaga-jaga terhadap risiko dan kemungkinan paling buruk yang dapat dan akan terjadi.
Dalam hubungan dengan kedudukan, posisi dan kewajiban manusia, falsafah dan ajaran budi pekerti luhur mengandung tujuh wawasan (sikap pandang), yakni wawasan Ketuhanan, kemanu-siaan, perdamaian, persaha-batan, ketahanan, pembangunan, kejuangan dan kekesatriaan. Berdasarkan pada wawasan tersebut, setiap amalan manusia
(1) harus dapat dipertanggung-jawabkan kepada Tuhan,
(2) harus tidak melanggar etika kemanusiaan yang adil dan beradab,
(3) harus bersikap damai dan bersahabat dalam menghadapi siapa saja, termasuk oponen,
(4) harus dapat mewujudkan ketangguhan dan keuletan mental dan fisikal dalam menghadapi berbagai kendala dan permasalahan,
(5) harus dapat meningkatkan kualitas dan kemajuan diri secara terus-menerus,
(6) harus bersikap pantang menyerah dan terus maju dalam perjuangan untuk mewujudkan tujuan yang mulia dan
(7) harus senantiasa menegakkan kebenaran, kejujur-an dan keadilan serta tahan-uji dalam menghadapi segala cobaan dan godaan.
Tujuan ajaran budi pekerti luhur adalah membentuk manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan, berkepribadian luhur, senantiasa menegakkan perdamaian dan persabatan serta mencintai lingkungan hidupnya. Ukuran ini mengharuskan manusia untuk memiliki daya, kesang-gupan dan ketahanan pengenda-lian diri yang kuat, yang dengan itu ia wajib selalu mengendalikan diri dan kepentingannya. Ajaran budi pekerti luhur beserta tujuannya bersifat normatif dan imperatif untuk diaplikasikan dan diwujudkan dalam hidup, perja-lanan hidup dan kehidupan manusia.
Inti ajaran budi pekerti luhur adalah mengendalikan diri. Mengendalikan diri bukan mengekang diri, tetapi menguasai, menempatkan, membawa, memfungsikan, memerankan dan mengarahkan diri dengan cara dan untuk tujuan yang mulia atas dasar kesadaran sendiri dan niat yang mandiri.
Makna dimensi kejiwaan Pencak Silat sama dengan inti ajaran budi pekerti luhur, yakni mengendalikan diri. Makna ini merupakan amanah bagi setiap pelaku Pencak Silat untuk mengkinerjakan dan menggu-nakan Pencak Silat dalam perkelahian secara terkendali dan terukur. Tidak over dosis atau berlebih, sembarangan, sewe-nang-wenang dan semena-mena, dalam wujud penganiayaan atau menghilangkan nyawa.
Dalam hubungan itu, ajaran budi pekerti luhur beserta tujuannya merupakan salah satu kriteria kejiwaan Pencak Silat asli, yakni Pencak Silat yang berasal atau merupakan produk dari budaya masyarakat lokal dan etnis Nusantara. Sistem beladiri yang menamakan dirinya Pencak Silat tetapi basis kejiwaannya bukan ajaran budi pekerti luhur, pada hakekatnya bukan Pencak Silat.
Pencak Silat pada hakekatnya adalah substansi dan sarana pendidikan kejiwaan dan kejasmanian. Pendidikan dalam arti luas mencakup juga pengajaran dan pelatihan. Dalam arti sempit, pendidikan menyangkut budi pekerti (mental), kepribadian, sikap dan perilaku, pengajaran menyangkut pengetahuan dan wawasan, sedangkan pelatihan menyangkut keterampilan teknis.
Pendidikan, pengajaran dan pelatihan Pencak Silat mencakup kedua dimensinya secara bersa-ma-sama dan terpadu. Hal tersebut berarti bahwa secara kuantitatif dan kualitatif pelaksa-naan serta hasil pendidikan harus dalam kondisi selaras, seimbang dan serasi dengan pelaksanaan serta hasil pengajaran dan pelatihan Pencak Silat. Semakin luas dan tinggi kuantitas dan kualitas pengetahuan, teori, keterampilan dan kiat seorang pelaku Pencak Silat Beladiri, harus semakin mantap dan tinggi kualitas penghayatan dan pengamalannya terhadap ajaran budi pekerti luhur. Semakin tinggi tingkat pengajaran dan pelatihan Pencak Silat yang diberikan kepada seseorang, harus semakin dalam dan luas pendidikan ajaran budi pekerti luhur yang diberikan kepadanya. Kedalaman dan keluasan itu bahkan harus terwujud dalam kemantapan penghayatan dan pengamalan ajaran tersebut. Kualifikasi serta keselarasan mental, intelejensi dan fisikal yang demikian itu dapat dirumuskan dengan ungkapan taqwa, tanggap, tangguh, tanggon dan trengginas.
Taqwa berarti beriman teguh kepada Tuhan dengan melaksanakan seluruh ajaran-Nya secara berlanjut, konsisten dan konsekuen, berbudi pekerti luhur, terus meningkatkan kualitas diri serta selalu menempatkan, memerankan dan memfungsikan dirinya sebagai warga masyarakat yang berdisiplin dan berdedikasi sosial, yakni warga masyarakat yang patuh dan taat secara tulus, ikhlas, mandiri dan konsekuen kepada tatanan, peraturan, tata-krama, tata-cara dan kesepakatan masyarakat yang absah dan berlaku serta berpartisipasi aktif dan positif dalam upaya-upaya untuk memajukan dan menyejahterakan masyarakat berdasarkan rasa kebersamaan, rasa kerukunan, rasa perdamaian, rasa persaha-batan, rasa kesetiakawanan, rasa tanggungjawab sosial dan rasa tanggungjawab terhadap Tuhan.
Dalam kaitan dengan pengkiner-jaan Pencak Silat Beladiri, taqwa berarti selalu memohon kekuatan lahir dan batin serta perlindungan, bimbingan dan petunjuk Tuhan agar pengkinerjaan Pencak Silat Beladiri yang dilakukan mempu-nyai keunggulan kompetitif yang maksimal tetapi senantiasa terukur dan terkendali, sehingga tidak berakibat negatif terhadap lawan yang memusuhi, sebalik-nya dapat mewujudkan perdamai-an dan persahabatan yang abadi dengan lawan. Semuanya itu berlandaskan pada keimanan yang teguh kepada Tuhan.

Tanggap berarti peka, peduli, antisipatif, pro-aktif dan mempunyai kesiapan diri terhadap perubahan dan perkembangan yang terjadi berikut semua kecenderungan, tuntutan dan tantangan yang menyertainya berdasarkan sikap berani mawas diri dan terus meningkatkan kualitas diri.
Dalam kaitan dengan pengkiner-jaan Pencak Silat Beladiri, tanggap berarti peka, cerdas, cerdik dan cermat dalam mengantisipasi serta memahami kekuatan dan gelagat tindakan lawan serta situasi, kondisi, kesempatan dan peluang yang berkembang maupun dalam menyusun kekuatan dan kiat untuk mengungguli kekuatan lawan secara cepat dan tepat. Semuanya itu berlandaskan pada sikap hati-hati, waspada, waskita dan sasmita (selalu mendahului tantangan).
Tangguh berarti keuletan dan kesanggupan mengembangkan kemampuan dalam menghadapi dan menjawab setiap tantangan serta mengatasi setiap persoalan, hambatan, gangguan dan ancaman maupun untuk mencapai suatu tujuan mulia berdasarkan sikap pejuang sejati yang pantang menyerah.
Dalam kaitan dengan pengkiner-jaan Pencak Silat Beladiri, tangguh berarti banyak inisiatif dan kreasi, panjang akal dan dapat mengembangkan kemam-puan dalam mengatasi permasa-lahan atau kesulitan yang dihadapi sebagai upaya untuk mengungguli lawan.

Tanggon (bahasa Jawa) berarti sanggup menegakkan keadilan, kejujuran dan kebenaran, teguh, konsisten dan konsekuen memegang prinsip, mempunyai rasa harga diri dan kepribadian yang kuat, penuh perhitungan dalam bertindak, berdisiplin, selalu ingat dan waspada serta tahan-uji terhadap segala godaan dan cobaan.
Dalam kaitan dengan pengkiner-jaan Pencak Silat Beladiri, tanggon berarti tahan-uji, tegar dan tegas, tidak mudah terpancing, tertipu atau bingung serta tidak mudah kehilangan akal dan inisiatif dalam menghadapi berbagai bentuk tindakan lawan yang sulit. Semuanya itu berlandaskan pada sikap percaya diri yang kokoh serta moril dan nyali yang selalu tinggi.

Trengginas (bahasa Jawa) berarti enerjik, aktif, eksploratif, kreatif, inovatif, berpikir luas dan ke masa depan serta sanggup bekerja keras untuk mengejar kemajuan yang bermutu dan bermanfaat bagi diri sendiri dan masyarakat berdasarkan sikap kesediaan untuk membangun diri sendiri dan sikap merasa bertanggungjawab atas pembangunan masyarakat-nya.
Dalam kaitan dengan pengkiner-jaan Pencak Silat Beladiri, trengginas berarti cergas, aktif, kreatif, inovatif, wasis, selalu mencari akal, inisiatif dan peluang, tangkas, gesit dan lincah serta selalu berupaya untuk merebut inisiatif lawan dan membuat lawan tidak berdaya. Semuanya itu berlandaskan pada sikap pantang kalah.
Hasil akhir ideal yang diharapkan dari pendidikan, pengajaran dan pelatihan Pencak Silat adalah terbentuknya manusia yang perkasa tetapi rendah hati (tawadhu), yang dalam bahasa Kawi (Jawa Kuno) disesantikan dengan bhirawa anuraraga, yang berarti perkasa tetapi rendah hati. Manusia yang demikian itu dilambangkan sebagai batang padi yang merunduk karena butir padinya yang lebat isinya. Semakin lebat dan berisi padinya, semakin merunduk batangnya. Karena itu, Pencak Silat disebut juga sebagai ilmu padi, yakni ilmu tentang kemahiran mengkinerjakan Pencak Silat yang dikendalikan oleh keluhuran budi pekerti, yang menjadikan manusia semakin rendah hati apabila kemahirannya semakin tinggi.
KESIMPULAN DAN PENUTUP
Dari keseluruhan uraian yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan secara singkat bahwa dimensi kejiwaan Pencak Silat adalah ajaran budi pekerti luhur. Ajaran ini selain merupakan dimensi kejiwaan juga merupakan basis kejiwaan, sumber motivasi, pengukur dan pengendali dalam pengkinerjaan dan penggunaan Pencak Silat secara fisik.
Semoga tulisan ini ada manfaatnya.
Jakarta, 17 Agustus 2006.

PENJELASAN SINGKAT
TENTANG “IKRAR PESILAT”
PENDAHULUAN
“Ikrar Pesilat”, yang ditetapkan dan disahkan oleh Kongres PERSILAT 1994 di Jakarta, adalah kode etik korsa manusia Pencak Silat, yang dinamakan Pesilat, di seluruh dunia. Ia adalah penyempurnaan dari “Triprasetya Pesilat” yang disahkan oleh Kongres PERSILAT 1991, juga di Jakarta, dengan menambah butir-butir ikrar dari 3 menjadi 5.

“Ikrar Pesilat” adalah pernyataan janji Pesilat kepada dirinya sendiri untuk memenuhi kewajiban-kewajiban luhuri. Pernyataan dibuat olehnya dalam kapasitas dan kualitasnya sebagai seorang pribadi, seorang manusia dan seorang kesatria. Janji dibuat untuk dirinya sebagai seorang pribadi dinyatakan dalam ikrar pertama, kepada dirinya sebagai manusia dalam ikrar kedua dan ketiga, dan kepada dirinya sebagai kesatria dalam ikrar keempat dan kelima.
Substansi “Ikrar Pesilat” adalah serangkaian kewajiban luhur pilihan yang termuat dalam ajaran budi pekerti luhur, yang wajib dihayati dengan baik dan benar, dan diamalkan secara persisten, konsisten dan konsekuen oleh setiap Pesilat dalam kehidupan dan pergaulannya sehari-hari. Pengahayatan substansi itu dilaksanakan dengan membaca, menghafal dan menyatakan secara terus-menerus, khususnya pada acara-acara penting yang dihadiri oleh banyak Pesilat. Pemahaman secara demikian bertujuan untuk menanamkan semangat “Ikarar Pesilat: dan sekaligus juga untuk memperkuat jiwa korsa Pesilat. Rumusan lengkap “Ikrar Pesilat’ yang termuat dalam buku Konstitusi PERSILAT 2004 adalah sebagai berikut :
Ikar Pesilat
1. Pesilat adalah pribadi yang berbudi pekerti luhur.
2. Pesilat adalah manusia yang menghormati sesamanya serta mencintai persahabatan dan perdamaian.
3. Pesilat adalah manusia yang senantiasa berpikir dan bertindak positif, kreatif dan dinamis.
4. Pesilat adalah kesatria yang menegakkan kebenaran, kejujuran dan keadilan serta senantiasa tahan-uji dalam menghadapi cobaan dan godaan.
5. Pesilat adalah kesatria yang senantiasa bertanggungjawab atas kata-kata dan perbuatan-perbuatannya.

PENJELASAN UMUM

Dalam penjelasan ini, arti ikrar adalah kewajiban luhur manusia untuk senantiasa menampilkan sikap, perbuatan dan perilaku mulia dalam pergaulannya sesamanya. Arti Pesilat adalah seseorang yang mencintai, setia dan mengabdikan dirinya untuk kemajuan Pencak Silat dan menjadikan Pencak Silat sebagai kebanggaan pribadinya dan sebagai sarana untuk membangun kepribadiannya, baik kejiwaan maupun kejasmanian. Arti kode etik adalah rumusan singkat dari serangkaian kewajiban yang harus diamalkan secara persisten, konsisten dan konsekuen. Arti korsa adalah sekelompok manusia yang mempunyai persmaan nasib, perjuangan dan tujuan, serta mempunyai hasrat untuk senantiasa bersatu dan berada dalam persatuan yang kokoh berdasarkan semangat persaudaraan dan kekeluargaan. Arti manusia pribadi adalah manusia yang mempunyai kepribadian khusus dan sifat khas, yang berbeda dengan manusia lain. Arti manusia perorangan manusia yang mempunyai di satu sisi hak, kemerdekaan dan kepentingan, dan di lain pihak, kewajiban, tanggungjawab dan dorongan pengabdian sosial. Arti kesatria adalah manusia yang senantia konsisten, kosekuen dan bertanggungjawab dalam menampilkan sikap, perbuatan dan perilakau, terutama dalam usaha untuk mencapai tujuan kehidupan dan pergaulan internasional, yakni untuk membangun perdamaian dan persahabatan abadi diantara manusia dan kesejahteraan manusia yang adil di seluruh dunia.
PEN JELASAN KHUSUS
Point 1
Berbudi pekerti luhur berarti Pesilat sebagai pribadi harus menyadari bahwa keberadaan, kehidupan dan kemampuannya adalah karunia Tuhan Yang Maha Kuasa yang harus dikembangkan untuk mendapat manfaat maksimum bagi dirinya sendiri dan untuk melayani kepentingan sesamanya dan pemeliharaan lingkungan hidupnya. Dalam hubungan itu, Pesilat wajib berterima berterimakasih dan memperkuat keimanannya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa di samping menjunjung tinggi ajaran-ajaran-Nya. Kejiwaannya adakah budi pekerti luhur. Budi adalah dimensi kejiwaan dinamis manusia, yang terdiri dari dinamika pikiran, perasaan dan kehendak, sedangka pekerti adalah moral atau etika dan luhur berarti mulia atau terpuji. Dengan demikian, berbudi pekerti bagi seorang Pesilat berarti senantiasa mengolah pikirannya, menimbang perasaannya, mendorong kehendaknya dan menampilkan pekertinya melalui sikap, perbuatan dan perilakunya yang terkendali. Dengan perkataan lain, kekhasan bagi manusia.yang berbudi pekerti luhur adalah kesanggupan untuk senatiasa mengendalikan diri dalam kehidupan pribadi serta kehidupan sosiallalu to always restrain oneself in one’s private life as well as in one’s social dan kehidupan ddalam kaitan dengan lingkungan hidup (ekologi). Itulah criteria manusia yang terpuji..
Itu berarti bahwa seorang Pesilat harus mempunyai kehendak, perasaan, pikiran dan ahlak atau moral yang mulia dalam bentuk sikap, perbuatan dan perilaku yang terkendali. Perwujudan dari berbudi pekerti luhur adalah kesanggupan untuk senantiasa mengendalikan diri dan harus senantiasa menghayati dengan baik dan benar serta menegakkan ajaran budi pekerti luhur dalam kehidupan dan pergaulannya sehari-hari.
Point 2
Menghormati sesamanya berarti seorang PesilaHonoring fellow man means that a Pesilat harus menyadari bahwa ia senantiasa membutuhkan orang lain dalam hidupnya. Kemajuan dan kesejahteraannya diperoleh atas bantuan dan kerjasama dengan manusia lain. Bahkan pada saat dan sesudah kematiannya, setiap dan semua pengaturannya diurus oleh manusia lain. Dalam kebersamaan, manusia mempunyai nilai dan dapat menyediakan semua kebutuhannya dengan lebih baik. Atas dasar pandangan itu, seorang Pesilat mempunyai kewajiban untuk menegakkan nilai-nilai kemanusiaan dengan menghormati satu sama lain, yang harus diwujudkan dalam bentuk sikap, perbutan dan perilaku mencintai persahabatan dan perdamaian di mana pun, kapan pun dan dalam keadaan apa pun. Pemenuhan kewajiban yang sedemikian itu berarti ikutserta dalam mewujudkan dan mentaati tatanan universal berdasarkan kebebasan, perdamaian dan keadilan.
Tercakup pada kata menghormati adalah toleran terhadap keinginan, kebutuhan, pendapat dan kepentingan manusia lain, mempunyai rasa setara dan rasa tolong-menolong Dengan demikian, menghormati sesame manusia merupakan dasar untuk menciptakan serta memelihara perdamaian dan persabatan dengan sesamanya di negaranya sendiri maupun dari negara-negara lain, yang pada gilirannya akan dapat menciptakan serta memelihara hubungan dan pergaulan baik yang abadi diantara bangsa-bangsa di seluruh dunia. Menghormati satu sama lain mencintai perdamaian dan persahabatan merupakan jalan untuk menciptakan kesejahteraan bangsa-bangsa di seluruh dunia.

Point 3
Berpikir dan bertindak positif, kreatif dan dinamis berarti setiap Pesilat sebagai manusia harus senantiasa berpikir dan berbuat yang terbaik, yang dengan itu ia akan mempunyai banyak kemungkinan untuk meraih kemajuan, prestasi yang baik dan keberhasilan, mendapat banyak kawan, menciptakan dan memelihara perdamaian serta memberi manfaat bagi publik. Berpikir dan berbuat seperti itu harus menjadi kebiasaan dan perilaku sehari-hari bagi seorang Pesilat. Dengan berpikir dan berbuat seperti itu, Pesilat akan terhindar dari kendala dan persoalan pribadi and hal-hal lain yang dapat menjatuhkan martabat pribadinya.
Point 4
Menegakkan kebenaran, kejujuran dan keadilan maupun tahan-uji dalam menghadapi cobaan dan godaan berarti bahwa seorang Pesilat harus menyadari bahwa kebenaran, kejujuran dan keadilan adalah prakondisi dasar bagi kesuksesan setiap manusia dalam usaha-usahanya, baik yang dilakukan sendiri maupun bersama manusia lain. Itu berarti, bahwa setiap bentuk usaha harus dilakukan secara benar, jujur dan adil. Jika tidak, hal itu dapat menimbulkan keresahan, kecemasan, kecemburuan, kecurigaan dan konflik, yang pada gilirannya dapat merusak persahabatan dan perdamaian.

Dalam hubungan itu, seorang Pesilat berkewajiban untuk menegakkan dan memelihara kebenaran, kejujuran dan keadilan yang dimulai oleh dirinya sendiri selaras dengan sikap mental seorang kesatria sejati. Ini berarti bahwa ia berkewajiban untuk selalu benar, jujur dan adil dalam sikap perbuatan dan perilakunya dengan selalu tahan-uji dengan kukuh terhadap setiap cobaan dan godaan, tidak melakukan penyimpangan dan pelanggaran, selalu beriman kepada Tuhan, berbudi pekerti luhur, hormat terhadap sesamanya serta mencintai persahabatan dan perdamaian. Ia juga harus selalu waspada dan waskita (antisipatif) terhadap kemungkinan-kemungkinan yang paling buruk. Ia harus selalu berada di depan tantangan-tantangan. Cobaan dan godaan merupakan kendala utama yang dapat membuat manusia gagal dalam mencapai tujuan dan cita-citanya.. Cobaan dan godaan yang tidak teratasi akan dapat menjatuhkan martabat manusia. Cobaan dan godaan terberat bagi setiap manusia adalah apabila hal itu mempunyai hubungan dengan usaha untuk menegakkan kebenaran, kejujuran dan keadilan.
Point 5
Bertanggungjawab atas kata-kata dan perbuatannya berarti bahwa setiap Pesilat harus senantiasa hati-hati dalam berbicara dan berbuat. Biasanya kata-kata dan perbuatan digunakan oleh publik untuk menilai kualitas manusia. Persoalannya adalah kriteria yang digunakan oleh publik itu tidak sama. Dengan perkataan lain, baik dan buruk adalah hal yang relatif. Apa yang dikatakan baik oleh seorang manusia kadang-kadang dikatakan buruk oleh manusia yang lain. Dengan demikian, setiap Pesilat harus senantiasa siap untuk menghadapi kemungkinan itu dan tetap harus bertanggungjawab atas semua hal yang ia telah nyatakan, khususnya apa yang telah ia bicarakan dan ia perbuat.
KESIMPULAN DAN PENUTUP
Dari semua penjelasan tersebut di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut

1. “Ikrar Pesilat”, yang terdiri dari lima ikrar sebagai satu kesatuan, merupakan unsur-unsur terpilih dari ajaran budi pekerti luhur, yang juga merupakan ajaran pengendalian diri dan ajaran moral universal.
2. Mengamalkan “Ikrar Pesilat” pada dasarnya sama dengan mengamalkan nilai-nilai moral universal, yang merupakan kewajiban bagi setiap Pesilat dalam kapasitas dan kualitanya :
a. Sebagai seorang pribadi dalam kerangka meningkatkan kualitas dan martabat dirinya.
b. Sebagai seorang manusia dalam kerangka menegakkan nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab.
c. Sebagai seorang kesatria dalam kerangka memenuhi kewajiban-kewajiban pribadinya manupun kewajiban-kewajibannya untuk kemanusiaan secara konsisten, konsekuen, berdisiplin dan bertanggungjawab.

Demikian penjelasan singkat tentang “Ikrar Pesilat”. Semoga makna, jiwa, semangat dan jiwanya dapat tertanam dalam budi semua Pesilat di mana pun mereka berada, dan diamalkan dengan sebaik-baiknyanya dalam kehidupan pribadi, sosial dan di lingkungan hidup mereka maupun dalam pergaulan international mereka.
Jakarta, 17 Agustus 2006.

PENJELASAN TENTANG
“PRASETYA PESILAT INDONESIA”
PENDAHULUAN
“Prasetya Pesilat Indonesia”, yang terdiri dari 7 butir prasetya sebagai satu kesatuan, adalah kode etik korsa (corps) Pesilat Indonesia sebagai warga negara, pejuang dan kesatria dalam kehidupan berbangsa dan bernegaranya. Prasetya sebagai warga negara tertera dalam butir prasetya yang pertama dan kedua, sebagai pejuang dalam butir prasetya yang ketiga, keempat dan kelima, dan sebagai kesatria dalam butir prasetya yang keenam dan ketujuh. Rumusan “Prasetya Pesilat Indonesia” selengkapnya dan seutuhnya adalah sebagai berikut:
1. Kami Pesilat Indonesia adalah warga negara yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur.
2. Kami Pesilat Indonesia adalah warga negara yang membela dan mengamalkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
3. Kami Pesilat Indonesia adalah pejuang yang cinta Bangsa dan Tanah Air Indonesia.
4. Kami Pesilat Indonesia adalah pejuang yang menjunjung tinggi persaudaraan dan persatuan Bangsa.
5. Kami Pesilat Indonesia adalah pejuang yang senantiasa mengejar kemajuan dan berkepribadian Indonesia.
6. Kami Pesilat Indonesia adalah kesatria yang senantiasa menegakkan kebenaran, kejujuran dan keadilan.
7. Kami Pesilat Indonesia adalah kesatria yang tahan-uji dalam menghadapi cobaan dan godaan.
PENJELASAN UMUM
Dalam penjelasan ini, arti prasetya, yang artinya sama dengan ikrar, adalah pernyataan janji kepada diri sendiri untuk memenuhi serangkaian kewajiban. Arti Pesilat Indonesia adalah manusia Indonesia yang cinta, setia, berbakti dan mengabdikan dirinya pada Pencak Silat, menjadikan Pencak Silat sebagai kebanggaan dirinya dan sebagai sarana untuk membangun pribadinya, baik rohaniah maupun jasmaniah. Arti kode etik adalah rumusan singkat-padat dari serangkaian kewajiban-kewajiban luhur. Arti korsa adalah kelompok manusia yang senasib, seperjuangan dan setujuan serta berkeinginan untuk selalu bersatu dan berada dalam satu kesatuan yang solid berlandaskan semangat persaudaraan dan kekeluargaan. Arti kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia adalah kehidupan kelompok besar manusia yang dilandasi keinginan untuk berada dalam kebersamaan (Ernest Renant : le desire d’etre ensemble) di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)) yang berwilayah dari Sabang sampai ke Marauke.. Arti warga negara adalah manusia sebagai unsur terkecil negara yang wajib memberikan kontribusi positif secara maksimal dalam upaya untuk mencapai tujuan kehidupan berbangsa dan bernegara. Arti pejuang adalah manusia yang pantang menyerah dan pantang mundur serta mengobsesikan kesuksesan dalam upaya untuk mencapai tujuan kehidupan berbangsa dan bernegara. Arti kesatria adalah manusia yang selalu konsisten, konsekuen dan bertanggungjawab dalam menampilkan sikap, perbuatan dan perilakunya terutama dalam rangka upaya untuk mencapai tujuan kehidupan berbangsa dan bernegara, yakni memelihara kekokohan persatuan Bangsa Indonesia, menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayah NKRI, menegakkan nilai-nilai moral agama dan moral sosial di kalangan pemimpin dan warga Bangsa Indonesia, mempertahankan jatidiri dan kepribadian Indonesia di tataran global serta mewujudkan keamanan yang mantap dan kesejahteraan sosial yang adil dan merata untuk seluruh Bangsa Indonesia.
“Prasetya Pesilat Indonesia” merupakan esensi dari “Nilai-nilai Luhur Pencak Silat Indonesia”, yakni nilai-nilai luhur yang terkandung dalam dimensi kejiwaan dan dimensi kejasmanian Pencak Silat sebagai satu kesatuan, yang sejiwa dengan nilai-nilai luhur falsafah Pancasila. Dimensi kejiwaan Pencak Silat adalah ajaran budi pekerti luhur, sedangkan dimensi kejasmanian Pencak Silat adalah berbagai teknik Pencak Silat yang saling tergantung dan saling berhubungan satu sama lain beserta kiat-kiat (kecakapan) untuk mengkinerjakannya.
Substansi “Prasetya Pesilat Indonesia” pada dasarnya adalah kewajiban-kewajiban mulia penting yang terpilih dari ajaran budi pekerti luhur yang wajib dihayati dan diamalkan serta ditegakkan oleh Pesilat Indonesia dalam kehidupan berbangsa dan bernegaranya sebagai warga negara, pejuang dan kesatria. Penghayatan substansi tersebut dilakukan dengan pembacaan, penghafalan dan pengucapan secara kontinyu dan konstan, khususnya dalam acara-acara penting yang diadakan dan dihadiri oleh Pesilat-Pesilat Indonesia. Penghayatan dengan cara seperti itu bertujuan untuk menamkan semangat “Prasetya Pesilat Indonesia” serta membangun jiwa kebangsaan dan ahlak (nation and character building) dan sekaligus juga untuk memperkokoh jiwa korsa (l’esprit de corps) Pesilat Indonesia.

Ajaran budi pekerti luhur adalah generalisasi (generalization) dan nama umum (general name) dari ajaran moral masyarakat lokal dan etnis di Indonesia yang cukup banyak jumlah dan ragamnya. Walaupun beragam, ajaran-ajaran moral itu mempunyai inti yang sama, yakni pandangan hidup dan wejangan arif-bijaksana kepada manusia dalam kaitan dengan pengolahan dan pembinaan budi pekertinya.

Menurut ajaran budi pekerti luhur, manusia berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan. Karena manusia berasal dari Tuhan, maka status manusia adalah mulia (insan kamil). Agar manusia dengan kemuliaannya itu dapat diterima oleh Tuhan dengan sebaik-baiknya apabila pada waktunya nanti ia kembali atau pulang kepada Tuhan (berpulang ke Rahmatullah), maka selama hidupnya maupun dalam kehidupan dan perjalanan hidupnya ia wajib beriman teguh dan bertaqwa kepada Tuhan, yakni percaya dan berserah diri sepenuh-penuhnya kepada Tuhan serta melaksanakan ajaran-ajaran-Nya secara persisten, konsisten dan konsekuen. Niat (nawaitu) dan amalan-amalan hidupnya semata-mata karena Tuhan dan tujuan hidupnya adalah untuk mendapatkan ridho Tuhan. Manifestasi kejiwaan dalam wujud moral individual dari keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan itu adalah budi pekerti luhur. Dengan demikian, ajaran budi pekerti luhur adalah ajaran yang ber-Ketuhanan (religius).
Budi adalah dimensi kejiwaan dinamis manusia yang berunsur karsa, rasa dan cipta. Makna kata-kata itu adalah aktivitas kehendak, perasaan dan penalaran (willing, sensing and reasoning). Pekerti adalah ahlak (character). Luhur adalah mulia atau terpuji (nobel, high esteem). Dengan demikian, makna budi pekerti luhur adalah aktivitas kehendak, perasaan dan penalaran serta ahlak yang mulia berlandaskan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan. Karsa menentukan keharusan dan larangan, rasa menentukan baik dan buruk, cipta menentukan benar dan salah. Karena itu, karsa berkaitan dengan mental-spiritual, rasa dengan emosi dan cipta dengan intelegensia (kecerdasan).
Ajaran budi pekerti luhur mewejang kepada manusia agar terus-menerus mengolah dan membina budi pekertinya secara optimal yang diarahkan pada perwujudan kearifan mental-spiritual (ahlak , moral), emotional dan intelegensial. Kearifan di sini berarti kemampuan memilah (membedakan) dan memilih (menentukan) secara benar dan tepat dalam kerangka usaha untuk mewujudkan suatu kemuliaan. Pengolahan dan pembinaan karsa bahkan harus diarahkan pada perwujudan kemanunggalan karsa manusia dengan Karsa Tuhan serta memposisikan, memfungsikan dan memerankan karsa sebagai pemimpin, pengarah dan pengendali rasa, cipta dan ahlak. Dengan cara demikian, semua amalan manusia akan berlandaskan pada kearifan dan akan selaras dengan Karsa Tuhan, yang berarti akan mendapat ridho Tuhan dan akan menjadikan manusia bernilai mulia di hadapan Tuhan dan sesama manusia. Dengan demikian, ajaran budi pekerti luhur merupakan pandangan hidup dan wejangan tentang kearifan. Karena terwariskan dan harus senantiasa dijunjung tinggi oleh warga bangsa Indonesia, ajaran budi pekerti luhur yang religius itu berstatus sebagai pandangan hidup dan kearifan tradisional bangsa Indonesia.

Menurut ajaran budi pekerti luhur yang berlandaskan pada Ketuhanan, manusia dalam hidup, kehidupan dan perjalanan hidupnya mempunyai empat kedudukan mulia sebagai satu kesatuan. Yang pertama adalah kedudukan sebagai mahluk Tuhan, karena manusia berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan. Tuhan adalah asal dan tujuan hidup semua mahluk (Jawa : sangkan paraning dumadi). Yang kedua adalah kedudukan sebagai mahluk pribadi, karena setiap manusia mempunyai kepribadian (personality) tersendiri yang unik dan berbeda dengan manusia lain. Kepribadian merupakan karakteristik setiap manusia. Yang ketiga adalah kedudukan sebagai mahluk sosial, karena di dunia ini manusia tidak hidup sendiri tetapi hidup dalam masyarakat bersama-sama dan berinteraksi dengan manusia lain. Yang keempat adalah kedudukan sebagai mahluk alam semesta. karena manusia hidup di suatu lingkungan hidup yang merupakan bagian integral dari alam semesta beserta isinya (ecology) yang diciptakan oleh Tuhan untuk manusia sebagai karunia-Nya.
Untuk masing-masing kedudukannya itu manusia mempunyai kewajiban mulia (noblesse oblige) yang harus dipenuhi dengan sebaik-baiknya dan seoptimal mungkin. Kewajiban mulia manusia sebagai mahluk Tuhan, adalah beriman dan bertaqwa kepada Tuhan serta senantiasa menegakkan nilai-nilai Ketuhanan atau nilai-nilai agama. Kewajiban mulia manusia sebagai mahluk pribadi, adalah meluhurkan pribadinya dan senantiasa menegakkan nilai-nilai moral pribadi. Kewajiban mulia manusia sebagai mahluk sosial, adalah menegakkan perdamaian dan persahabatan serta senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai moral, sosial dan kultural. Kewajiban mulia manusia sebagai mahluk alam semesta, adalah mencintai dan mengamankan lingkungan hidupnya serta senantiasa menegakkan nilai-nilai natural-universal. Kewajiban-kewajiban itu saling terkait dan berhubungan satu sama lain. Pemenuhannya diarahkan untuk mencapai satu tujuan, yakni mendapatkan ridho Tuhan.
Dalam hubungan dengan status, posisi dan kewajiban manusia, ajaran budi pekerti luhur mengandung tujuh visi, wawasan atau sikap pandang yang bersifat normatif dan imperatif untuk diaplikasikan dan diwujudkan, yakni wawasan Ketuhanan, kemanusiaan, perdamaian dan persahabatan, ketahanan, pembangunan, kejuangan dan kekesatriaan. Berdasarkan pada wawasan-wawasan tersebut, setiap pengamalan manusia
(1) harus dapat dipertanggungjawabkan kepada Tuhan,
(2) harus tidak melanggar etika kemanusiaan yang adil dan beradab (hak asasi manusia),
(3) harus bersikap damai dan bersahabat dalam menghadapi siapa saja,
(4) harus dapat mewujudkan ketangguhan dan keuletan mental dan fisikal dalam menghadapi berbagai kendala dan permasalahan,
(5) harus dapat meningkatkan kualitas diri secara terus-menerus dalam rangka mengejar kemajuan,
(6) harus bersikap pantang menyerah dan terus maju dalam perjuangan untuk mewujudkan tujuan yang mulia dan
(7) harus senantiasa konsisten, konsekuen dan penuh rasa tanggungjawab dalam menampilkan sikap, perbuatan, tindakan dan perilaku serta tahan-uji dalam menghadapi segala cobaan dan godaan.
Ajaran budi pekerti luhur merupakan ukuran normatif dan imperatif (normative and imperative measures) manusia dalam hidup, kehidupan dan perjalanan hidupnya sehari-hari. Ukuran ini mengharuskan manusia untuk memiliki daya, kesanggupan dan ketahanan pengendalian diri yang kuat, yang dengan itu ia wajib mengendalikan kepentingannya. Mengendalikan diri bukan mengekang diri, tetapi menguasai, menempatkan, membawa, memfungsikan, memerankan dan mengarahkan diri dengan cara dan untuk tujuan yang mulia atas dasar kesadaran sendiri, rasa percaya diri dan niat yang mandiri. Dengan demikian, tujuan ajaran budi pekerti luhur adalah membentuk manusia yang mempunyai sifat taqwa, tanggap, tangguh, tanggon, trengginas.
Yang dimaksud dengan taqwa adalah beriman teguh kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan melaksanakan seluruh ajaran-Nya secara persisten, konsisten dan konsekuen, berbudi pekerti luhur, terus meningkatkan kualitas diri serta selalu menempatkan, memerankan dan memfungsikan dirinya sebagai warga masyarakat yang senantiasa mengendalikan diri, rendah hati dan berdedikasi (berpengabdian) sosial, berdasarkan rasa kebersamaan, rasa kerukunan, rasa perdamaian, rasa persahabatan, rasa kesetiakawanan, rasa kepedulian, rasa tanggungjawab sosial dan rasa tanggungjawab terhadap Tuhan.
Yang dimaksud dengan tanggap adalah peka, peduli, antisipatif, pro-aktif dan mempunyai kesiapan diri terhadap segala hal, termasuk perubahan dan perkembangan yang terjadi, berikut semua kecenderungan, tuntutan dan tantangan yang menyertainya, berdasarkan sikap berani mawas diri dan terus meningkatkan kualitas diri.
Yang dimaksud dengan tangguh adalah keuletan dan kesanggupan untuk mengembangkan kemampuan dalam menghadapi dan menjawab setiap tantangan serta mengatasi setiap persoalan, hambatan, gangguan dan ancaman maupun untuk mencapai sesuatu tujuan mulia, berdasarkan sikap pejuang sejati yang pantang menyerah.
Yang dimaksud dengan tanggon adalah mempunyai rasa harga diri dan kepribadian yang kuat, penuh perhitungan dalam bertindak, berdisiplin, selalu ingat dan waspada serta tahan-uji terhadap segala godaan dan cobaan, berdasarkan sikap mental yang teguh, konsisten dan konsekuen memegang prinsip.
Yang dimaksud dengan trengginas adalah enerjik, aktif, eksploratif, kreatif, inovatif, berpikir luas dan jauh ke masa depan, sanggup bekerja keras untuk mengejar kemajuan yang bermutu dan bermanfaat bagi diri sendiri dan masyarakat, berdasarkan sikap kesediaan untuk membangun diri sendiri dan sikap merasa bertanggungjawab atas pembangunan masyarakatnya serta dorongan dan semangat untuk terus maju dan bermutu.
Perlu dan pentingnya memelihara budi pekerti luhur sangat disadari oleh Bapak-bapak pendiri (the founding fathers) Negara Kesatuan Republik Indonesia yang arif dan bijaksana serta berwawasan luas dan jauh ke masa depan. Dalam penjelasan mengenai pokok pikiran ke-4 Pembukaan UUD 1945 para founding fathers itu menitipkan pesan-pesan yang isinya antara lain agar para penyelenggara negara memelihara budi pekerti kemanusiaan yang luhur. Menurut pandangan mereka, penyelenggara negara adalah pemimpin, pemuka, panutan dan pamong formal masyarakat (the ruling elite). Karena itu mereka wajib menjadi panutan dan teladan bagi masyarakat dalam memelihara budi pekerti luhur. Mereka harus menjadi pemimpin yang senantiasa memberi teladan dalam segala hal, terutama sekali dalam memelihara budi pekerti luhur. Baik-buruknya budi pekerti masyarakat tergantung pada baik-buruknya budi pekerti para penyelenggara negara. Apabila para penyelenggara negara sebagai the ruling elite bersama seluruh warga masyarakat mampu memelihara budi pekerti luhur secara persisten, konsisten dan konsekuen, maka akan tercipta dan terpelihara suatu keadaan umum yang kondusif bagi terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur (masyarakat tata-tentrem kerta-raharja) yang penuh pengampunan Tuhan (baldatun toyyibatun wa robun ghafur).
PENJELASAN KHUSUS
Di bawah ini disampaikan penjelasan mengenai masing-masing butir Prasetya Pesilat Indonesia, dengan maksud agar Pesilat Indonesia dapat menghayatinya dengan baik dan benar serta mempunyai motivasi yang mantap dalam mengamalkannya secara persiten, konsisten dan konsekuen.
Butir pertama
Pesilat Indonesia harus menyadari bahwa Tuhan Yang Maha Esa merupakan sumber bagi terbentuknya dan adanya budi pekerti luhur pada diri manusia. Manusia tidak akan pernah memiliki budi pekerti luhur apabila tidak bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Budi pekerti luhur adalah manifestasi kejiwaan dari sikap bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Arti bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah beriman kepada-Nya serta mengamalkan semua ajaran-Nya secara persisten, konsisten dan konsekuen. Arti berbudi pekerti luhur adalah memiliki karsa, rasa, cipta dan akhlak yang mulia serta perwujudannya dalam bentuk sikap, perilaku dan perbuatan yang terkendali. Dengan perkataan lain, perwujudan budi pekerti luhur adalah kesanggupan untuk selalu mengendalikan diri dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan sosial. Hal ini merupakan tolok ukur dari manusia yang bermartabat tinggi.
Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur merupakan satu kesatuan terpadu. Keduanya harus menjadi basis mental dan basis motivasi manusia Indonesia, termasuk Pesilat Indonesia. Dalam kaitan itu, Pesilat Indonesia berkewajiban untuk menjadi warganegara yang selalu bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, dalam arti selalu beriman kepada-Nya serta melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya secara konsisten dan konsekuen serta senantiasa mengamalkan budi pekerti luhur dengan menampilkan sikap, perbuatan, tindakan dan perilaku serta ahlak yang terpuji dalam kehidupannya sehari-hari sebagai warga negara dan dalam interaksinya dengan warga negara yang lain.
Butir kedua
Pesilat Indonesia harus menyadari bahwa Pancasila adalah dasar Negara Indonesia yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea keempat. UUD 1945 telah mengalami amandemen 4 kali, tetapi Pembukaannya tetap dipertahankan dalam keadaan utuh. Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 merupakan penjabaran dari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945. Di dalamnya tertera cita-cita nasional Rakyat Indonesia. Rumusan dari cita-cita nasional tersebut adalah :
1. Memiliki Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur (alinea kedua).
2. Berkehidupan kebangsaan yang bebas (alinea ketiga).
3. Memiliki Pemerintah yang melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh Tumpah Darah Indonesia dan untuk mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan Bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial (bagian pertama alinea keempat).
4. Memiliki susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan serta dengan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia (bagian akhir alinea keempat).
Berdasarkan pada Undang-Undang Dasar 1945 hasil amandemen, yang dimaksud dengan Negara Indonesia dan Negara Republik Indonesia dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Berdasarkan pokok-pokok pikiran yang melandasi Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, NKRI adalah :
1. Negara Persatuan yang melindungi dan meliputi segenap Bangsa Indonesia seluruhnya.
2. Negara yang hendak mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia.
3. Negara yang berkedaulatan rakyat berdasar atas kerakyatan dan permusyawaratan perwakilan.
4. Negara yang berdasar atas Ketuhanan Yang maha Esa menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai satu kesatuan merupakan Perjanjian Luhur Rakyat Indonesia untuk mewujudkan cita-cita nasionalnya.

Menurut Prof. Dr. Mr. Drs. Notonegoro dalam bukunya “Pancasila Secara Ilmiah Populer”, Sila-sila Pancasila tersusun secara hierarkhis dan satu sama lain mempunyai hubungan yang saling mengikat, sehingga Pancasila merupakan satu kesatuan keseluruhan yang bulat, dalam arti tiap-tiap Sila di dalamnya mengandung Sila-Sila lainnya dan dikualifikasi oleh Sila-Sila lainnya itu. Rumusan Sila-Sila Pancasila sebagai satu kesatuan keseluruhan dalam susunannya yang hierarkhis adalah sebagai berikut :
1. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa meliputi dan menjiwai Sila Kemanusiaan yang adil dan beradab, Sila Persatuan Indonesia, Sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan dan Sila Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia.
2. Sila Kemanusiaan yang adil dan beradab diliputi dan dijiwai oleh Sila Ketuhanan Yang Maha Esa serta meliputi dan menjiwai Sila Persatuan Indonesia, Sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan dan Sila Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia.
3. Sila Persatuan Indonesia diliputi dan dijiwai oleh Sila Ketuhanan Yang Maha Esa dan Sila Kemanusiaan yang adil dan beradab serta meliputi dan menjiwai Sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan dan Sila Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia.
4. Sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan diliputi dan dijiwai oleh Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, Sila Kemanusiaan yang adil dan beradab dan Sila Persatuan Indonesia serta meliputi dan menjiwai Sila Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia.
5. Sila Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia diliputi dan dijiwai oleh Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, Sila Kemanusiaan yang adil dan beradab, Sila Persatuan Indonesia dan Sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan
Undang-Undang Dasar 1945 merupakan aturan dasar kehidupan berbangsa dan bernegara Bangsa Indonesia di wilayah NKRI. Aturan dasar ini merupakan penjabaran dari Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Undang-Undang Dasar 1945 dapat diamandemen tetapi setiap hasil mandemen harus sejiwa dengan pokok-pokok pikiran dan cita-cita nasional Rakyat Indonesia yang terkandung dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

Pesilat Indonesia berkewajiban untuk menjadi warganegara yang sanggup membela dan mengamalkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Hal ini pada dasarnya berarti kesanggupan untuk membela keberadaan, kedaulatan dan keutuhan wilayah NKRI serta mempertahankan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 maupun mengamalkan dan menegakkan nilai-nilainya secara persisten, konsisten dan konsekuen dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Butir ketiga
Pesilat Indonesia harus menyadari bahwa Tanah Air (fatherland) Indonesia sangat luas wilayahnya. Ditinjau dari segi geografis, Indonesia terdiri dari 17.667 pulau besar dan kecil. Luas wilayah daratnya 735.000 mil2 dan terserak meliputi wilayah seluas 4.000.000 mil persegi. Untaian pulau-pulau ini membentang sepanjang 3.000 mil dan melebar sepanjang 1.000 mil. Dengan demikian, Indonesia merupakan negara yang wilayahnya paling terserak di dunia. Di wilayah Tanah Air Indonesia ini terdapat kekayaan alam yang berlimpah, baik di darat maupun di laut, serta keindahan alam yang mengagumkan.
Ditinjau dari segi etnis, agama, ras, bahasa, adat-istiadat, tradisi dan budaya, Bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk. Kemajemukan ini merupakan kenyataan sosiologis dan kultural yang telah berakar dalam sejarah masyarakat Indonesia. Di Indonesia terdapat lebih dari 300 kelompok etnis dan 50 bahasa yang satu sama lain amat berbeda. Kemajemukan telah menjadi ciri Bangsa Indonesia yang paling khas. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang paling heterogen di dunia. Masing-masing kelompok etnis mewarisi peninggalan-peninggalan budaya yang penuh pesona dari leluhurnya.
Kekayaan alam yang berlimpah, keindahan alam yang mengagumkan dan peninggalan-peninggalan budaya yang mempesona, adalah karunia Tuhan Yang Maha Esa yang wajib disyukuri. Rasa syukur itu harus diwujudkan dalam bentuk kecintaan setiap warga negara Indonesia kepada Bangsa dan Tanah Ainya.. Dalam kecintaan itu terkandung kemauan dan kemampuan untuk
(1) selalu membina dan memelihara persatuan dan kesatuan bangsa,
(2) mempertahankan dan mengamankan Bangsa dan Tanah Air Indonesia dari berbagai ancaman apapun bentuknya dan dari manapun datangnya, dan
(3) melestarikan kekayaan dan keindahan alam Indonesia maupun peninggalan-peninggalan budaya warisan leluhur bangsa Indonesia.
Bangsa Indonesia adalah bangsa pejuang yang tangguh dalam memperjuangkan, membela, menegakkan dan mengisi kemerdekaannya. Walaupun sifatnya heterogen (beragam) dalam suku, budaya, adat, dan agama, Bangsa Indonesia selalu berada dalam persatuan dan kesatuan yang semakin kokoh, sesuai dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, yang berarti walaupun beraneka ragam tetapi merupakan satu kesatuan.
Pesilat Indonesia berkewajiban untuk menjadi pejuang yang mencintai Bangsa dan Tanah Airnya. Hal ini berarti bahwa Pesilat Indonesia harus lebih menonjolkan dan mengutamakan dirinya sebagai warga Bangsa Indonesia daripada sebagai warga suku dan daerah asalnya. Suku dan daerah asal harus dipandang sebagai bagian integral dari Bangsa dan Tanah Air Indonesia.
Selain itu, Pesilat Indonesia juga berkewajiban untuk berpartisipasi aktif dalam upaya mempertahankan serta mengamankan Bangsa dan Tanah Airnya dari berbagai ancaman dari manapun datangnya dan apapun bentuknya maupun dalam upaya melestarikan kekayaan dan keindahan alamnya serta peninggalan-peninggalan budaya leluhurnya.
Butir keempat
Pesilat Indonesia harus menyadari bahwa kemajemukan bangsa Indonesia dapat merupakan kekayaan yang penuh manfaat konstruktif tetapi dapat juga menjadi sumber persoalan yang distruktif. Keterserakan wilayah Tanah Air Indonesia juga telah mempersulit kesatuan dan integrasi sosial maupun nasional. Kemajemukan bangsa dan keterserakan wilayah yang sedemikian itu menuntut adanya keinginan dari unsur-unsur bangsa Indonesia untuk selalu bersatu (Ernest Renant : le desire d’etre ensemble) disertai kemauan dan kemampuan untuk bertoleransi terhadap hak, kepentingan, pendapat dan keyakinan pihak lain. Kemajemukan memerlukan mekanisme sosial dan kultural untuk mengatur perbedaan-perbedaan serta perwujudan kepentingan dan hak setiap orang dan kelompok. Kemajemukan mensyaratkan ketertiban, disiplin dan kerukunan.
Dalam kaitan itu, membina dan melihara kesatuan dan keutuhan bangsa dan wilayah Tanah Air Indonesia merupakan hal yang sangat penting. Hal tersebut berarti bahwa kepentingan bangsa dan Tanah Air Indonesia lebih penting daripada kepentingan suku dan daerah. Segala macam bentuk etnosentrisme, daerahisme, promordialisme dan sektarianisme yang dapat melemahkan semangat persaudaraan dan persatuan Bangsa harus ditiadakan sampai ke akar-akarnya.
Berhasilnya perjuangan bangsa Indonesia di dalam usaha mencapai, membela, menegakkan dan mengisi kemerdekaannya adalah karena adanya persatuan yang dijiwai semangat persaudaraan di antara semua warga bangsa Indonesia. Persatuan merupakan hal yang sangat penting dan strategis bagi bangsa Indonesia yang bersuku-suku dan menempati pulau-pulau yang tersebar luas.
Pesilat Indonesia berkewajiban untuk menjadi pejuang yang menjunjung tinggi persaudaraan dan persatuan Bangsa dengan mencegah atau mengatasi berbagai bentuk pemenuhan kepentingan pribadi, suku, daerah dan golongan yang dapat merusak persaudaraan dan persatuan bangsa.
Butir kelima
Pesilat Indonesia harus menyadari bahwa kemerdekaan adalah jembatan emas, melalui mana bangsa Indonesia dapat mengisi kemerdekaannya dengan pembangunan di segala bidang untuk mencapai kemajuan yang setara dengan kemajuan bangsa-bangsa lain di negara-negara maju. Segala hal yang menghambat, mengganggu dan mengancam upaya untuk mengejar kemajuan harus diatasi. Kemajuan yang harus dikejar dan dicapai adalah kemajuan yang memberikan kekondusifan bagi pengamalan nilai-nilai moral, sosial, kultural dan agama yang dijunjung tinggi oleh masyarakat maupun bagi terwujudnya kesejahteraan sosial yang adil dan merata kepada seluruh bangsa Indonesia.
Kemajuan itu harus tetap berakar pada kepribadian Indonesia, yang berarti tetap berjatidiri Indonesia. Kepribadian dan jatidiri Indonesia itu sendiri harus tetap berakar pada budaya, tradisi dan adat-istiadat serta nilai-nilai moral, sosial, kultural dan agama yang dijunjung tinggi oleh masyarakat. Kemajuan dan kepribadian Indonesia merupakan satu kesatuan terpadu. Dalam kerangka kemajuan yang dapat dicapai, kepribadian Indonesia harus dipelihara, dipertahankan dan dilestarikan.
Pesilat Indonesia berkewajiban untuk menjadi pejuang yang terus-menerus mengejar kemajuan agar dengan itu ia dapat memberikan karya positif bagi kemajuan bangsa dan negaranya. Tetapi dalam upaya mengejar kemajuan itu, ia harus tetap mempertahankan dan melestarikan kepribadian Indonesia. Dengan perkataan lain, kemajuan-kemajuan yang dicapai harus tetap berakar pada kepribadian Indonesia, sehingga kemajuan-kemajuan itu akan tetap berjatidiri Indonesia.
Butir keenam
Pesilat Insonesia harus menyadari bahwa kebenaran, kejujuran dan keadilan merupakan kondisi dasar yang memungkinkan terlaksananya berbagai upaya kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan dengan baik. Dalam kaitan itu, untuk mewujudkan tercapainya tujuan kehidupan berbangsa dan bernegara, setiap unsur bangsa harus menegakkan atau membudayakan kebenaran, kejujuran dan keadilan pada dirinya sendiri dan setelah itu dilanjutkan dengan memasyarakatkan dan membudayakannya seluas-luasnya dan merata ke semua unsur bangsa di seluruh wilayah negara. Seiring dengan itu, segala bentuk upaya yang menyangkut masyarakat, bangsa dan negara harus dilakukan dengan benar, jujur dan adil. Hasil-hasil yang dicapai dengan upaya itu pun juga harus didistribusikan dengan benar, jujur dan adil. Apabila tidak demikian, akan terjadi keresahan, kegelisahan, kecemburuan dan kecurigaan sosial, yang pada gilirannya akan menimbulkan gejolak sosial, konflik sosial, keributan sosial, kekerasan sosial dan lain-lain sejenisnya yang mengganggu stabilitas nasional dan melemahkan Ketahanan Nasional.
Pesilat Indonesia berkewajiban untuk menjadi kesatria yang senantiasa dan terus berusaha menegakkan kebenaran, kejujuran dan keadilan. Menegakkan berarti mewujudkan menjadi kenyataan. Hal ini tidak mudah. Karena itu, penegakan kebenaran, kejujuran dan keadilan harus dimulai dari diri sendiri, yang berarti setiap kata yang dikeluarkan dan perbuatan yang dilakukan harus benar, jujur dan adil, bukan bagi dirinya sendiri saja tetapi juga bagi orang lain.
Butir ketujuh
Pesilat Indonesia harus menyadari bahwa cobaan dan godaan yang bermacam-macam bentuknya merupakan kendala utama yang dapat menggagalkan keberhasilan manusia dalam upaya untuk mencapai tujuan atau cita-citanya, serta dapat meniadakan kemauan dan kemampuan. Cobaan dan godaan yang tidak teratasi akan melemahkan bahkan meniadakan daya pengendalian diri dan pada gilirannya dapat menjatuhkan atau menurunkan martabat diri.
Karena itu, setiap unsur bangsa harus senantiasa tahan-uji dalam menghadapi cobaan dan godaan. Ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berdisiplin, mengendalikan diri serta menegakkan kebenaran, kejujuran dan keadilan, dapat menguatkan ketahanujian manusia dalam menghadapi setiap cobaan dan godaan. Ketahanujian semua unsur bangsa yang kuat akan memberikan kekondusifan bagi suksesnya upaya untuk mewujudkan tujuan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pesilat Indonesia berkewajiban untuk menjadi kesatria yang selalu tahan uji, yakni tanggap (cepat mengetahui), tangguh (ulet dan berkemampuan) sera tanggon (tegar tak tergoyahkan) dalam menghadapi setiap cobaan dan godaan, apapun bentuknya dan dari manapun datangnya. Hal itu akan dapat terwujud apabila Pesilat Indonesia selalu meneguhkan ketaqwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa, meluhurkan budi pekertinya serta memperkuat disiplin dan daya pengendalian dirinya.
KESIMPULAN DAN PENUTUP
Dari keseluruhan penjelasan yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.
“Prasetya Pesilat Indonesia” adalah pernyataan janji Pesilat Indonesia kepada dirinya sendiri untuk memenuhi kewajiban-kewajibannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di NKRI. Pernyataan janji tersebut adalah dalam kedudukannya sebagai warga negara, sebagai pejuang dan sebagai kesatria. Sebagai warga negara ia wajib memenuhi kewajiban-kewajiban kebangsaan dan kenegaraannya. Sebagai pejuang ia wajib meneruskan perjuangan generasi pendahulunya dalam rangka menegakkan dan mengisi kemerdekaan bangsa Indonesia. Sebagai kesatria ia wajib berdisiplin serta bertindak konsisten, konsekuen dan penuh rasa tanggungjawab dalam memenuhi kewajiban-kewajiban sosial dan nasionalnya maupun dalam meneruskan perjuangan generasi pendahulunya
2.
Substansi “Prasetya Pesilat Indonesia” yang dihayati dengan baik dan benar dapat membentuk semangat kebangsaan dan ahlak yang berguna dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
3.
Pengamalan “Prasetya Pesilat Indonesia” yang persisten, konsisten dan konsekuen akan memperkuat jiwa korsa dan semangat persatuan Pesilat Indonesia serta membuat Pesilat Indonesia dan korsanya mampu memberikan kontribusi yang signifikan dalam upaya-upaya untuk mewujudkan tercapainya tujuan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Demikian penjelasan singkat mengenai “Prasetya Pesilat Indonesia”. Semoga penjelasan ini dapat membuat Pesilat Indonesia semakin menghayati keseluruhan substansi yang terkandung dalam “Prasetya Pesilat Indonesia” serta semakin mampu untuk mengamalkannya secara persisten, konsisten dan konsekuen dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

0 Response to "Logo Persekutuan Silat Kebangsaan Malaysia PESAKA"

Poskan Komentar