Logo Provinsi Papua

Bentuk lambang daerah dan artinya berdasarkan Perda No.7 Tahun 1992
Logo Provinsi Papua
Logo Provinsi Papua
  1. Wadah Lambang Daerah berbentuk PERISAI BERPAJU LIMA adalah menggambarkan kesiap-siagaan dan ketahanan. Paju lima menunjukkan jumlah sila dalam Pancasila. Warna dasar kuning emas pada bagian bawah perisai dan pita tersebut melambangkan keagungan yang mengandung pengertian sebagai gambaran cita usaha pengalian hasil - hasil kekayaan bumi dan alamnya. Warna dasar biru tua pada bagian atas perisai tersebut, melukiskan kekayaan lautan / perairan Papua. Jalur kuning melingkari tepian perisai tersebut menggambarkan keyakinan tercapainya segala usaha dan perjuangan. Jalur hitam yang melingkari pita dan warna tulisan hitam menggambarkan kemantapan dan kebulatan tekad untuk berkarya swadaya.
  2. Tiga buah TUGU yang masing-masing berwarna abu-abu, sebelah kanan dan berwarna putih sebelah kiri di atas TUMPUKAN BATU persegi panjang, bersusun 2 (dua) masing-masing berderet 6 (enam) dan 9 (sembilan) yang berwarna putih bergaris-garis batas hitam: Perjuangan TRIKORA dan kemenangan PEPERA Tahun 1969. Tumpukan batu tersebut juga melambangkan Dinamika Pembangunan di Daerah ini. Warna abu-abu putih dan bergaris-garis hitam melambangkan ketenangan dan kesucian. Setangkai BUAH PADI yang berisi 17 (tujuh belas) butir padi berwarna kuning bertangkai kuning pula yang terdapat di sebelah kanan dan setangkai BUAH KAPAS yang terdiri dari 8 (delapan) buah berwarna putih bertangkai Hijau Tua yang terdapat disebelah kiri daripada tiga buah Tugu tersebut yang diikat dengan sehelai PITA berwarna merah berlekuk 4 (empat) dan berjurai 5 (lima) adalah melukiskan kesatuan dan persatuan Bangsa yang dijiwai oleh semangat Proklamasi 17 Agustus 1945 untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur. Tiga buah GUNUNG berjajar yang sama tingginya berwarna hijau tua dan berpuncak putih salju adalah menggambarkan ciri khas Daerah Papua. Warna hijau tua ketiga buah gunung dan tangkai dari buah kapas itu, melambangkan kesuburan tanah / kekayaan alam daratan Papua. Sedangkan tulisan "Papua" dalam huruf cetak yang berwarna kuning adalah menggambarkan keluhuran / keagungan cita.
SEKILAS PAPUA
Papua adalah sebuah provinsi di Indonesia yang terletak di pulau Nugini bagian barat atau west New Guinea.
Papua juga sering disebut sebagai Papua Barat karena Papua bisa merujuk kepada seluruh pulau Nugini termasuk belahan timur negara tetangga, east New Guinea atau Papua Nugini. Papua Barat adalah sebutan yang lebih disukai para nasionalis yang ingin memisahkan diri dari Indonesia dan membentuk negara sendiri. Provinsi ini dulu dikenal dengan panggilan Irian Barat sejak tahun 1969 hingga 1973, namanya kemudian diganti menjadi Irian Jaya oleh Soeharto pada saat meresmikan tambang tembaga dan emas Freeport, nama yang tetap digunakan secara resmi hingga tahun 2002. Nama provinsi ini diganti menjadi 'Papua' sesuai UU No 21/2001 Otonomi Khusus Papua. Pada masa era kolonial Belanda, daerah ini disebut Nugini Belanda (Dutch New Guinea).
Asal kata Irian adalah Ikut Republik Indonesia Anti-Netherland.
Kata Papua sendiri berasal dari bahasa melayu yang berarti rambut keriting, sebuah gambaran yang mengacu pada penampilan fisik suku-suku asli.
Pada tahun 2004, disertai oleh berbagai protes, Papua dibagi menjadi dua provinsi oleh pemerintah Indonesia; bagian timur tetap memakai nama 'Papua' sedangkan bagian baratnya menjadi Irian Jaya Barat.
Geografi
Luas wilayah
Luas 420.540 km�
Iklim
Curah hujan 1.800 � 3.000 mm
Suhu udara 19-28�C
Kelembapan 80%
Kelompok suku asli di Papua
Kelompok suku asli di Papua terdiri dari 255 suku, dengan bahasa yang masing-masing berbeda. Suku-suku tersebut antara lain :
  • Ansus
  • Amungme
  • Asmat
  • Ayamaru, mendiami daerah Sorong
  • Bauzi
  • Biak
  • Dani
  • Empur, mendiami daerah Kebar dan Amberbaken
  • Hatam, mendiami daerah Ransiki dan Oransbari
  • Iha
  • Komoro
  • Mee, mendiami daerah pegunungan Paniai
  • Meyakh, mendiami Kota Manokwari
  • Moskona, mendiami daerah Merdei
  • Nafri
  • Sentani, mendiami sekitar danau Sentani
  • Souk, mendiami daerah Anggi dan Menyambouw
  • Waropen
  • Wamesa
  • Muyu
  • Tobati
  • Enggros
  • Korowai
  • Fuyu
VISI DAN MISI PAPUA
VISI
Saya Melihat Papua Baru
Ketika kita berdiri dari titik itu, saya mengarahkan pandangan saya jauh ke depan. Seolah-olah saya bermimpi dan mimpi itulah yang menjadi visi saya. alam mimpi itu saya melihat PAPUA BARU. Nun jauh di sana saya melihat suatu cahaya yang menyinari suatu pulau, dalam kegelapan.
Mata saya semakin terbuka, semakin terarah dan semakin terfokus, seolah-olah pulau itu semakin mendekat, saya melihat pulau itu begitu indah dan begitu kaya; keindahan lautnya, pantai, sungai, gunung dan lembah, serta keindahan flora dan faunanya. Keindahan itu tetap terpelihara dengan baik. Pulau itu begitu kaya dengan kekayaan di lautan, di daratan, di bawah tanah dan di udara.
Kemudian saya melihat penduduknya. Tidak terlalu banyak. Ada suku-suku asli pemilik dari pulau itu. Ada pula saudara-saudaranya yang datang dari pulau-pulau lain dan menetap di situ. Mereka hidup dalam suasana persaudaraan dan saling mengasihi, karena pendatang menghormati dan mengakui hak-hak penduduk asli dan sebaliknya penduduk asli mengulurkan tangannya dan memberikan tempat-tempat yang layak dan aman kepada pendatang untuk hidup bersama. Mereka hidup dalam suasana penuh persaudaraan, penuh harmoni, aman, damai dan tenteram.
Mereka bekerja keras dan rajin belajar. Mereka bekerja saling bahu membahu. Tingkat kesejahteraan mereka dari hari ke hari terus meningkat mencapai tingkat yang melebihi saudara-saudaranya di pulau-pulau lain. Mereka memiliki peradaban dan martabat yang tinggi.
Mereka adalah penduduk yang tertib, penuh disiplin dan taat kepada hukum. Mereka menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, keadilan dan kebenaran. Menjunjung tinggi nilai-nilai etika dan moral. Mereka adalah umat yang beragama, beriman dan taat kepada Tuhan Allah, Sang Pencipta Yang Maha Kuasa.
Sesudah itu saya melihat pemimpin-pemimpinnya. Mereka terpilih langsung oleh rakyat secara demokratis. Mereka memiliki kapasitas dan kemampuan kepemimpinan yang tinggi, tetapi rendah hati. Mereka tidak mengenal korupsi, kolusi dan nepotisme. Mereka tidak mengenal diskriminasi. Mereka diurapi oleh Tuhan Allah sendiri dengan hikmat, marifat dan kebijaksanaan. Mereka memiliki wibawa dan kharisma. Mereka menjadi contoh dan teladan bagi rakyatnya
Pemerintahannya adalah pemerintahan yang terbaik, bersih dan berwibawa. Suatu pemerintahan yang melayani rakyatnya dengan sebaik-baiknya. Demikian juga sebaliknya, rakyatnya hormat dan taat kepada pemimpin-pemimpinnya yang memerintah. Suatu pemerintahan yang akhirnya menjadi contoh dan teladan bagi provinsi-provinsi lain.
Inilah, kurang lebih mimpi saya tentang Papua Baru yang akan kita bangun di masa depan. Inilah Papua Baru yang akan kita tuju. Kita akan berjalan dengan penuh iman dan pengharapan, memasuki dan menikmati hari-hari dan tahun-tahun terbaik di hadapan kita yang Tuhan Allah sendiri telah sediakan bagi kita semua. Mengapa tidak?
MISI
Misi kita adalah mewujudkan cita-cita ini menjadi kenyataan. Tetapi masa depan yang lebih baik itu, tidak akan jatuh dari langit. Membangun masa depan yang lebih baik, merupakan suatu pekerjaan besar yang tidak pernah akan selesai, karena merupakan suatu proses yang akan berlangsung secara terus-menerus.
Proses itu pada hakekatnya merupakan suatu dialog segitiga antara Tuhan Allah Sang Pencipta dengan manusia dan alam sekitarnya. Proses itulah yang akan kita kenal sebagai Proses Pembangunan. Dan proses pembangunan adalah proses perubahan, yaitu proses transformasi masyarakat, menuju terwujudnya masyarakat baru.
Proses itu ibarat suatu perjalanan yang panjang, tidak mengenal kata akhir. Kita harus tahu tujuan ke arah mana kita harus pergi. Kita harus tau kendaraan apa yang paling sesuai untuk membawa kita menuju tujuan. Kita harus mengenal dengan baik medan itu bukanlah medan yang bebas dari hambatan, rintangan maupun gangguan. Kita juga harus tahu kekuatan dan kelemahan kita.
Dengan demikian misi kita. Sebagai suatu pekerjaan besar, suatu proses yang berjalan secara terus-menerus, membutuhkan tiga prasyarat yaitu, pertama kekuasaan (power), kedua sumber daya (resources) dan ketiga kepemimpinan (leadership).
Kita sudah memiliki kekuasaan yang besar, Undang-undang  No 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus di Papua dalam memberikan kekuasaan yang besar dibandingkan kekuasan yang kita miliki sebelumnya. Kekuasaan itu telah memberikan kewenangan, ruang dan peluang yang sangat besar kepada kita untuk menggunakannya secara bertanggung jawab.
Kita sudah memiliki sumber daya yang besar. Sumber daya manusia, sumber daya alam dan sumber daya keuangan, dengan kekuatan dan kelemahan yang di milikinya. Segenap sumber daya yang dimiliki, perlu diorganisasikan dan dikelola secara efisien dan efektif.
Demikian juga masalah-masalah yang kita hadapi dan kita gumuli adalah masalah-masalah yang besar dan kompleks. Bahkan masalah-masalah itu telah mempertaruhkan eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Persoalan kita sekarang adalah bahwa rakyat Papua sekarang membutuhkan seorang pemimpin yang besar pula. Hanya dengan memiliki suatu kapasitas kepemimpinan yang kuat dan bijaksana, ia dapat memggunakan kekuasaan itu secara bijaksana dan bertanggung jawab, dan mampu mengelola segenap sumber daya yang tersedia dengan sebaik-baiknya untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat.

 dikutip dari http://www.papua.go.id/


Demo Blog NJW V2 Updated at: 14.18

0 komentar:

Poskan Komentar